Belbuk.comtoko buku onlineBuku Original021-4202857
Cara PembelianTestimoniPusat BantuanTentang KamiHubungi Kami
Buku    Sosial & Politik    Politik

Rezim Lokal di Indonesia: Memaknai Ulang Demokrasi Kita

Berat 0.70
Tahun 2018
Halaman 478
ISBN 9786024335618
Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Sinopsis       Buku Sejenis
 
Harga: Rp120.000
Tersedia:
Dikirim 2-5 hari berikutnya SETELAH pembayaran diterima. (Senin s/d Jumat, kecuali hari libur)

Sinopsis

Demokrasi kerap dianggap sebagai sebuah proyek nasional yang tunggal dan bersifat seragam. Padahal, struktur kesempatan politik di berbagai konteks jelas berbeda-beda dan menimbulkan pengaruh serta akibat yang juga berbeda. Oleh karena itu, studi tentang demokrasi dan demokratisasi perlu diperkuat dengan mengedepankan perspektif lokal, lebih dari pada perspektif pusat (nasional). Di tingkat lokal-lah terletak pusat-pusat kekuasaan yang satu sama lain saling berinteraksi. Dan di tingkat lokal pula imajinasi-imajinasi genuine tentang praktik berdemokrasi dapat ditemukan.

Buku ini adalah hasil studi di 11 daerah yang bermuara pada kesimpulan bahwa rezim lokal yang berbeda-beda dapat dipetakan dalam lima varian rezim: formalis-elitis, konsosiasional, pluralis-kompromis, sosio-kultural, dan formalis-deliberatif. Melalui pemetaan ini, buku ini menawarkan gairah baru untuk melanjutkan dan melakukan re-setting agenda demokrasi Indonesia secara lebih substantif dan tidak melulu terjebak dalam demokrasi electoral. Caranya adalah dengan mengembangkan demokrasi asimetris, yaitu demokrasi yang memahami dan mengakomodasi lokalitas sebagai modal dasar dalam pembangunan demokrasi.  Dengan demikian, proses demokratisasi ke depan dapat berlangsung ‘di daerah-daerah, dari daerah-daerah, untuk Indonesia’. Dengan logika seperti itulah demokrasi asimetris hadir sebagai  bottom-up, sehingga sungguh-sungguh menjadi langkah politik bersama untuk mengelola kebhinekaan Indonesia.
(Kembali Ke Atas)

Ulasan

Umbu ParianguUmbu Pariangu, 13 May, 2019
Rating: 4 dari 5 Bintang!
Buku ini bagus dibaca oleh masyarakat umum yang berminat pada isu-isu demokrasi lokal (pilkada,politik kewargaan, dll). Setidaknya buku ini menjelaskan, politisi kita masih dibentuk oleh sekumpulan partai yang bukan merupakan representation of idea (representasi gagasan/ideologi), namun dibesarkan dalam kultur politik yang lebih mewakili “kepentingan” sesaat. Itulah kenapa di panggung politik hari-hari ini sulit kita mendapatkan omongan politisi yang sarat dengan ide-ide besar kemajemukan yang mendamaikan, menyejukkan serta “menutrisi” akal sehat rakyat, selain ide-ide partikularitas.
Dalam bahasa sarkastis, para elite partai memang tidak memiliki kepentingan untuk mendewasakan sikap politik rakyat, karena “kedangkalan” berpikir rakyat menjadi lahan subur bagi para elite untuk mengembangbiakkan pelbagai sikap dan budaya politik primitif, yang menghalalkan segala cara. Buku ini mencoba mengkritisi semua itu dengan cara pandang yang lebih aktual, optimis dan visioner.
Apakah ulasan ini membantu?
Ya
 
Tidak
(Kembali Ke Atas)
(Kembali Ke Atas)