Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan halian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS al-Hujuraat: [49].13)
Keberagaman sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah di atas merupakan sunnatullah; berlaku selama dunia ini masih ada. Namun konsep yang setua sejarah manusia ini, justru merupakan konsep yang paling sering dikesampingkan ketika berinteraksi dengan yang berbeda. Kita menjadi semakin tergantikan dengan Anda, Kalian, dan Mereka, membuat perintah Allah untuk saling mengenal menjadi semakin sulit tercapai. Ana pemahaman terhadap konsep kesatuan dalam keberagaman menjadi hilang tanpa bekas. Sehingga yang muncul adalah penggunaan nama Allah dan Rasul-Nya untuk membenarkan tindakan yang sering kali malah bertentangan dengan perintah-Nya.
Buku ini, tidak hanya berbicara tentang buah suatu pemahaman terhadap keberagaman, tapi juga menyajikan konsep penting dalam proses pemahaman tersebut: dialog, musyawarah, pemahaman akan kekerasan, keragaman, dan perbedaan. Dan, pengitegrasian tersebut yang menghasilkan buah yang diharapkan: Islam yang menjadi rahmat bagi semesta.
KENISCAYAAN DIALOG MENGGALAKKAN MUSYAWARAH ISLAM ANTI KEKERASAN BERLAKU ADIL UNTUK MENGHINDARI KESALAHAN FATAL DAN FITNAH MEMBANGUN MASYARAKAT TERBUKA SIKAP SALING MENGHORMATI MEMBANGUN JAMAAH BEKERJA UNTUK SESAMA MANUSIA MASYARAKAT RAHMATAN LIL ALAMIN KERAGAMAN DAN KESATUAN MENYIKAPI PERBEDAAN PENAFSIRAN ISLAM WASATHIYAH