Belbuk.comtoko buku onlineBuku Original021-4202857
Cara PembelianTestimoniPusat BantuanTentang KamiHubungi Kami
Buku    Novel & Sastra    Sastra & Cerpen

Rara Mendut

Berat 0.44
Tahun 2019
Halaman 345
ISBN 9786020634753
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Sinopsis          Buku Sejenis
 
Stok Sedang Kosong
Stok Buku sedang kosong. Apakah Anda ingin diberitahu pada saat stok sudah tersedia?

Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut:

Majapahit: Bala Sanggrama
Langit Kresna Hariadi
Rp129.000
Pingkan Melipat Jarak
Sapardi Djoko Damono
Rp75.000
Majapahit: Banjir Bandang dari Utara
Langit Kresna Hariadi
Rp124.000
Dasar-Dasar Public Relations
Soleh Soemirat
Rp62.000
Lainnya+   

Sinopsis

“Kita kan hanya perempuan rampasan belaka, Den Rara. Kenapa Den Rara tidak mau dipersunting Tumenggung yang kuasa dan kaya raya? Kan enak nanti.”

“Tubuh dirampas memang. Tetapi hati tidak.” Genduk Duku, yang menjatuhkan dirinya dalam pangkuan puannya, dibelai rambutnya. “Nduk, Gendukku sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi wanita cantik juga. Tidak mudah menjadi wanita cantik, Nduk. Tidak mudah. Apalagi di kalangan istana. Di sini kita menjadi barang hiburan belaka. Di luar kita lebih mudah jadi orang.”

*

Rara Mendut, wanita rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap membangkang tatanan di lingkungan istana, di mana perempuan diharuskan bersikap halus dan patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya, lebih baik menyambut ajal di ujung keris Sang Tumenggung daripada dipaksa melayani nafsu panglima tua.

Rara Mendut merupakan novel pertama dari Trilogi Rara Mendut, mahakarya Y.B. Mangunwijaya. Sebuah narasi yang tidak hanya mengisahkan tumpang tindih hidup manusia, juga dengan apik menyinggung sejarah Tanah Jawa,
keberanian perempuan, dan protes atas ketidakadilan.
(Kembali Ke Atas)
Advertisement:

Buku Sejenis

Muhasabah Tujuh Puluh
Jabrohim
Mata Air Bulan
Sindhunata
Senja di Jakarta
Mochtar Lubis
Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Sapardi Djoko Damono
Almustafa
Kahlil Gibran
(Kembali Ke Atas)