
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang lebih dikenal sebagai Y.B. Mangunwijaya atau Romo Mangun, adalah rohaniwan Katolik, arsitek, sastrawan, budayawan, dan aktivis sosial Indonesia. Ia lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, sebagai anak sulung dari dua belas bersaudara pasangan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdaniyah. Ayahnya adalah seorang guru dan penilik sekolah.
Pada masa muda, Mangunwijaya sempat terlibat sebagai tentara pelajar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pengalaman melihat penderitaan rakyat biasa selama masa revolusi sangat memengaruhi arah hidupnya. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia memilih jalan imamat. Ia ditahbiskan sebagai imam Katolik pada 8 September 1959. Kemudian ia memperdalam ilmu arsitektur di Aachen, Jerman, serta mengikuti studi humanistik di Aspen Institute, Colorado, Amerika Serikat.
Sebagai arsitek, Romo Mangun dikenal sebagai tokoh penting arsitektur modern Indonesia yang berpihak pada masyarakat marjinal. Karya besarnya adalah penataan permukiman di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Upayanya mengubah kawasan kumuh menjadi lingkungan yang lebih manusiawi dan bermartabat membawanya meraih Aga Khan Award for Architecture pada 1992. Ia juga pernah mengajar sebagai dosen luar biasa di Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada.
Di bidang sastra, Mangunwijaya menghasilkan sejumlah karya penting. Novel Burung-Burung Manyar (1981) menjadi salah satu karyanya yang paling terkenal. Novel tersebut meraih SEA Write Award pada 1983 dan kemudian dikaitkan dengan pengakuan Ramon Magsaysay Award. Karya lainnya meliputi trilogi Roro Mendut, Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, Durga Umayi, serta berbagai esai, termasuk Sastra dan Religiositas yang pernah dinobatkan sebagai buku nonfiksi terbaik.
Romo Mangun juga peduli pada pendidikan alternatif dan pendampingan masyarakat, termasuk di wilayah yang terdampak pembangunan seperti Kedung Ombo. Ia meninggal dunia pada 10 Februari 1999 di Jakarta. Hingga kini, sosoknya dikenang sebagai intelektual yang konsisten membela kaum lemah melalui arsitektur, sastra, dan tindakan nyata.