|
Ade Suhaimi
|
1 s.d. 5 (dari 5 ulasan)
 |
Cerita ini adalah sebuah "protes keras" kepada "Gereja" atau kebenaran yang dilembagakan. Arie telah melihat dan merasakan langsung bahwa "Gereja" telah kehilangan misi sucinya. Orang-orang mulia yang dibesarkan oleh "Gereja", ternyata tidak hadir di tempat ini, mereka tidak bersama kita di sini. Mereka tidak menemani perjalanan manusia dengan sungguh-sungguh.
|
 |
1 dari 1 orang menilai cukup membantu Kelebihan Tere adalah menjadi seorang "pemulung" yang jenius. Kisah ini adalah hikmah yang seringkali diabaikan, tetapi Tere berhasil memungutnya. Cerita ini adalah sepele, tetapi Tere telah tuntas memberikan makna. Tere adalah penulis yang meneteskan imanjinasinya dengan tinta qalb; maka karya-karyanya selalu memberikan warna dan aura yang indah.
Dan ketika bersentuhan dengan makhluk yang bernama cinta, maka Tere adalah cinta itu sendiri; ia datang dan mengalir, ia menulis dan memercikkan api inspirasi. Bagi Tere, "pungutlah apa pun yang engkau temui, sesampainya di rumah, maka ia akan menjadi mutiara."
|
 |
Kisah yang sangat menyentuh. Kehidupan yang kita miliki, ternyata sangat rapuh untuk selalu direngkuh apalagi digenggam erat utuk terus dimiliki. Takdir Tuhan bergerak sangat cepat. Tumbuh dan bersemi. Bersemi, kemudian sirna dan pergi. Seorang ibu kehilangan belahan jiwanya. Sementara orang lain, yang berdiri hanya sejarak 5 centimeter dari langkah kakinya; telah menjelma sebagai iblis yang amat sadis. Orang baik diberikan hak untuk hidup, sementara orang jahat juga diberikan hak untuk hidup. Kesalahan dan kesalehan duduk berdampingan di mana-mana. Seperti sahabat karib.....
|
 |
Buku ini lahir secara diam-diam dari rahim pesantren. Saya ingin menyebutnya sebagai "kitab fiksi" yang sangat enak dibaca dan lugas. A Fuadi ingin berbagi cerita tentang iman dan Tuhan yang diyakini oleh orang-orang sederhana semisal Alif.
Kisah ini, sebagian adalah kepingan puzzle yang dipungut Fuadi di pesantren, sebagian lagi adalah mimpi-mimpi besar Fuadi tentang pesantren dan masa depannya. Fuadi ingin mengajak kita untuk melihat ke luar jendela; bahwa kehidupan di luar pesantren terus bergerak dan melesat ke depan!
|
 |
1 dari 1 orang menilai cukup membantu Buku "sederhana" ini telah melemparkan para pembacanya ke "jurang!" Sebagai seorang penulis, Neil Gaiman sangat piawai menyodorkan keadaan jiwa Shadow. Kisah ini adalah sindiran untuk siapa pun yang jiwanya terpenjara. Sekaligus memercikkan api inspirasi agar jiwa terkungkung itu menjadi bebas dan merdeka. Lihatlah Shadow; ia akhirnya menjelma menjadi seorang laki-laki yang tidak gentar dengan badai apa pun yang mengamuk. Shadow senantiasa berdiri tegak di tengah guncangan takdir yang bergeser tiap inci.
Gaiman, seolah hendak menyampaikan pesan-pesan mulia para dewa; bahwa hidup harus mengikuti jalan agung para dewa itu sendiri. Kisah ini bukan sekedar untuk orang-orang Amerika, tetapi untuk siapa pun yang merasa lemah dan rapuh menghadapi kenyataan. Misteri takdir tidak bisa dicecap hanya oleh literatur dan keadaan. Maka melompatlah dengan sungguh-sungguh ke dalam "jurang" takdir sampai ke dasarnya.
Shadow telah memasuki rahasia-rahasia takdir itu dengan amat teliti..
|
|