November 1999 Pelabuhan Ternate menjadi saksi bisu sebuah tragedi kemanusiaan. Bersama para pengungsi lain, seorang ibu tergesa-gesa sambil menarik-narik anaknya yang masih kecil menuju kapal yang siap mengevakuasi mereka. Tangan kanan Sang Ibu membawa barang-barang yang dapat diselamatkan. Sementara tangan kirinya menarik-narik sang buah hati. “Cepat, cepat! Nak,” katanya sambil merangsuk masuk ke dalam kapal. Namun, tak lama berselang saat menengok ke belakang, ternyata ia hanya memegang sepotong tangan anaknya yang telah putus.... Sang buah hati tewas ditebas perusuh yang semakin beringas. Kisah-kisah yang ada di dalamnya menyadarkan kita betapa nyawa tak lagi berarti dalam suatu tragedi.
Kisah yang sangat menyentuh. Kehidupan yang kita miliki, ternyata sangat rapuh untuk selalu direngkuh apalagi digenggam erat utuk terus dimiliki. Takdir Tuhan bergerak sangat cepat. Tumbuh dan bersemi. Bersemi, kemudian sirna dan pergi. Seorang ibu kehilangan belahan jiwanya. Sementara orang lain, yang berdiri hanya sejarak 5 centimeter dari langkah kakinya; telah menjelma sebagai iblis yang amat sadis. Orang baik diberikan hak untuk hidup, sementara orang jahat juga diberikan hak untuk hidup. Kesalahan dan kesalehan duduk berdampingan di mana-mana. Seperti sahabat karib.....