Kita manusia seperti sebuah botol. Bau yang keluar dari botol tersebut tergantung dari apa yang ada di dalamnya. Kalau di dalam botol itu bangkai, mustahil yang keluar wangi parfum. Aroma harum hanya keluar dari botol tersebut bila di dalamnya memang minyak wangi. Maka, mustahil kemajuan yang kita capai mendatangkan kebahagiaan jika paham kita tentang kemajuan bersifat konsumeristik dan materialistik. Sebab kebahagiaan sendiri bersifat psikis dan esoteris. Titik tekan kebahagiaan bukan pada apa yang dirasakan melainkan pada siapa yang merasakan. Artinya, penekanannya pada orangnya dan bukan pada barangnya. Konsekuensinya, mau tidak mau kita dipaksa ‘melihat ke dalam’ (inward-looking), bukan ‘melihat keluar’ (outward-looking).
Buku ini disusun untuk menjawab keinginan kita semua untuk tidak bersikap fatalistik kepada kemajuan, tetapi pada saat yang sama juga tidak kehilangan kesempatan untuk merasakan nikmatnya kebahagiaan. Secara jujur, kita semua pasti ingin maju sambil tersenyum. Tetapi, sayangnya, itu tidak segampang mengucapkannya. Keadaan itu hanya akan terwujud kalau disertai dengan pemahaman yang benar. Karena apa yang terjadi di luar diri kita merupakan cermin dari apa yang ada di dalam kesadaran kita.
“Buku ini merupakan pendekatan sintetis antara kajian psikologi dan tasawuf populer sehingga pesan spiritualitas yang hendak disampaikan menjadi terasa akrab dan mudah dicerna serta aplikatif. Karya ini semakin memperkaya munculnya pendekatan baru terhadap manajemen diri yang berbasis spiritual yang kelihatannya menjadi tema yang kian populer baik di Indonesia maupun di barat.”
- Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Penulis Bestseller Psikologi Kematian
“Stephen R. Covey seolah memberikan gradasi bahwa setelah 7 Habits yang mengantarkannya menjadi manusia efektif (highly effective people) barulah manusia dapat beranjak menggapai keagungannya [Greatness/8th Habit] dengan menginspirasi orang lain). Rusli Malik ternyata membuktikan bahwa effectiveness adalah pencapaian yang simultan di saat mengakrabi kembali FITRAH-nya.”
- Darwin Noor SH. MM, Direktur Utama Jasaraharja
“Kalau topeng kepalsuan sudah ditinggalkan seraya kembali ke fitrah niscaya hidup dipenuhi kenikmatan dan kebahagiaan dunia akhirat. Buku ini bisa membantu kita ke jalan itu.”
- Dudung Natanegara, Senior Leader Oil and Gas Company dan Mantan Vice President ConocoPhillips
"Di saat bangsa dan masyarakat dan bangsa mengalami kemunduran yang berakibat semakin lemahnya moralitas individu dan sosial, buku ini justru memberi alternatif cara memperkuat hati, pikiran, dan sikap dalam mengarungi kehidupan yang makin tidak bersahabat ini."
- Prof. Dr. Anwar Arifin, Wakil Ketua Komisi X DPR RI
“Buku ini memotiviasi akan pentingnya memperbaiki pola pikir kita. Karena ternyata pikiran menentukan kualitas tindakan kita. Ditulis oleh seorang yang sejak perjumpaan pertama hingga kini tak pernah “macet” dalam BERPIKIR dan BERTINDAK.”
- Hertasning Ichlas, Pegiat Yayasan Rausyan Fikr, Jakarta