Masya Allah! Kami tercekat, tak mampu bersuara apa-apa, hanya air mata yang tiba-tiba meleleh deras. Serpihan kayu itu diambil dari dalam tulang batok kepala Rian, salah satu santri Daarul Qur’an.
Kepala Rian tertimpa daun pintu di asramanya. Pimpinan dan asaatidz segera melarikannya ke rumah sakit. Ini kecelakaan berat, kata dokter yang menanganinya. Resikonya, Rian selamat namun dengan cacat berat, atau innalillahi bila memang sudah takdirnya.
Selama dalam penantian, mulut dan hati kami tak henti bersholawat, berdzikir, dan berdo’a. Sholat hajat juga kami panjatkan demi takdir yang terbaik buat santri kami. Semua itu cukup menenangkan hati, meskipun tak bisa menghapus sama sekali gundah galau kami.