| Tweet |
|
|
|||||||||||||||||||||||
Pernyataan tentang nihilnya agama dari pola pikir dan jiwa anak didik saat sesungguhnya tidak sepenuhnya bisa dikatakan benar bagi negara kita yang secara ideologi dinyatakan bukan sebagai negara sekuler dan bukan pula sebagai negara agama. Secara ideologi dan political will, agama tetap diperhatikan negara. Namun, gejala kedangkalan penghayatan nilai keagamaan anak didik begitu tampak dalam praktik di lapangan. Hal ini disebabkan pengajaran pendidikan di Indonesia cenderung memakai metode Barat yang positivistik, yang lebih menekankan sesuatu yang terukur dari segi kuantitatif. Keadaan ini menurut para guru dan siswa berpacu mencapai standar isi, dengan angka-angka yang harus dijangkau sehingga mencapai standar kelulusan.
Di tenggah menipisnya harapan dan optimisme masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah yang di anggap belum mampu memberikan pengaruh signifikan dalam membentuk mentalitas anak vdidik, buku ini mengajak para pemerhati pendidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat luas untuk memeriksa kembali kurikulum pendidikan karakter dan praktik pelaksanaannya. Apa saja yang kurang? Mengapa mengalami banyak hambatan? Apa saja masalah yang dihadapi? Bagaimana solusinya? Semua pertanyaan terbsebut dijawab secara tuntas oleh penulis buku ini dengan benar dan apik.
Diding Nurdin | Wahyu Wibowo | M. Fadlillah | H. A. Rusdiana | Jejen Musfah |