Inilah buku yang telah mengguncang banyak negara Timur Tengah selama beberapa tahun. Isinya memancing kontroversi sengit karena dianggap sangat ‘provokatif’ oleh sebagian kalangan muslimin, terutama yang mengaku sebagai pengikut Salafiyah (Salafi). Apalagi sang penulis, yaitu ulama dan cendekiawan Muslim besar asal Mesir, Syaikh Muhammad al-Ghazali (1917-1996), adalah pengajar di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.
Di buku yang aslinya berjudul “As-Sunnah An-Nabawiyah, Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits” ini, penulis membongkar keganjilan banyak riwayat yang terlanjur dianggap sebagai hadits shahih oleh sebagian muslimin, dikarenakan sanad-nya dianggap kuat. Ia lantas membandingkan isi (matan) hadits-hadits itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dan ternyata banyak “hadits-hadits” yang umumnya hadits ahad itu isinya amat bertentangan dengan Al-Qur’an.
Maka, ia dengan lantang bersuara agar umat Islam mencampakkan riwayat-riwayat yang sudah terlanjur dianggap sebagai hadits. Sebab, katanya, tak mungkin Nabi saw. mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an.
Selain dikenal sebagai ulama modernis yang berpengaruh besar pada gerakan kebangkitan Islam di Mesir, Muhammad al-Ghazali juga seorang penulis yang sangat produktif. Tak kurang dari 94 judul buku yang telah ia tulis selama hidupnya. Belum lagi ribuan artikel dan ceramahnya yang tersebar di banyak media massa.*