Sinopsis
Pemikir filosofis dalam hukum Islam merupakan kajian penting dalam perumusan dan penerapan hukum Islam, terutama dalam kegiatan istinbath hukum bagi para mujtahid atau bagi siapa saja yang mendalami ilmu fikih. Dilihat dari segi kepentingan dalam istinbath, filsafat hukum Islam ini memang tidak menempati urutan teratas sebagaimana ilmu ushul fiqh, karena ia lebih merupakan pelengkap dan pemantu ilmu ushul fiqh serta suatu ilmu dengan gaya berpikir filosofis, sehingga memberi keyakinan kepada umat Islam bahwa hukum Islam adalah hukum yang memastikan maslahat dibalik sebuah istinbath-istinbath hukum. Landasan berpikir filosofis selama ini telah diajarkan ketika kuliah ushul fiqh dan juga pengantar ilmu ushul fiqh, akan tetapi materinya belum mencapai secara spesifik ke arah berpikir filosofis dalam hukum Islam. Walaupun dalam buku ini tidak membahas pemikiran filosofis dalam hukum Islam secara utuh dan menyeluruh, setidaknya tulisan ini memberikan gambaran bahwa untuk memadukan pemikiran filosofis dalam meng-istinbath-kan hukum.
Buku ini layak untuk dibaca oleh para pelajar dan mahasiswa, khususnya yang berkonsentrasi dengan hukum Islam (syariah), baik mahasiswa S-1 maupun pascasarjana, demikian juga bagi praktisi dan pemerhati hukum Islam secara umum. Semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat.
Daftar Isi
BAB 1 MASUKNYA FILSAFAT KE DUNIA ISLAM 1
Pengertian Filsafat Islam 1
Sejarah Filsafat Islam 6
Gerakan Penerjemahan: Dari Yunani–Suryani ke Arab 8
Ruang Lingkup Pembahasan Filsafat Islam 11
BAB 2 BERPIKIR FILOSOFIS DALAM HUKUM ISLAM 17
Pengertian Filsafat Hukum Islam dan Berpikir Filosofis dalam Hukum Islam 17
Ruang Lingkup dan Objek Filsafat Hukum Islam 19
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Filsafat Hukum Islam 23
Hubungan Filsafat Hukum Islam dengan Keilmuan Islam Lainnya 27
BAB 3 PENGGUNAAN AKAL DAN WAHYU DALAM PEMIKIRAN FILOSOFIS HUKUM ISLAM 35
Akal dan Wahyu 35
Hukum Islam dan Tantangan Ilmu Pengetahuan 39
Qath’i dan Zhanni dalam Hukum Islam 41
Ta’abbudi dan Ta’aqquli 43
BAB 4 IJTIHAD DALAM PEMIKIRAN FILOSOFIS HUKUM ISLAM 47
Pengertian Ijtihad 47
Dasar Pemikiran Ijtihad 48
Ringkasan Ijtihad dalam Rentang Sejarah Hukum Islam 51
Ijtihad Periode Rasulullah saw. 52
Ijtihad Periode Sahabat 56
Ijtihad pada Era Shighar al-Shahabat dan Tabi’in 68
Ijtihad Periode Imam-imam Mazhab 74
Ijtihad pada Periode Jumud danTaklid 79
Ijtihad pada Periode Kebangkitan Hukum Islam 86
Syarat Melakukan Ijtihad 90 E. Mujtahid dan Tingkatannya 93 F. Bentuk-bentuk Ijtihad 98
BAB 5 MAKNA HUKUM ISLAM (HUKUM SYAR’I) 101
A. Pengertian Hukum Islam 101
B. Aliran-aliran Hukum Islam 106
BAB 6 MAQASHID AL-SYARI’AH SEBAGAI LANDASAN BERPIKIR FILOSOFIS 115
Maqashid al-syari’ah sebagai Dasar Penetapan Hukum Islam 115
Kategori al-Dharuriyyat, al-Hajiyyat, dan al-Tahsiniyyat 121 1. Al-Dharuriyyat 121 2. Al-Hajiyyah 124 3. Al-Tahsiniyyah 124
Hubungan Maslahah dengan Maqashid al-syari’ah 125
BAB 7 PRINSIP DAN KAIDAH-KAIDAH HUKUM ISLAM DALAM MEWUJUDKAN PEMIKIRAN FILOSOFIS HUKUM ISLAM 139
Prinsip-prinsip Hukum Islam 140
Memelihara Kemaslahatan 140
Meniadakan Kepicikan dan Tidak Memberatkan 142
Menyedikitkan Beban 145
Berangsur-angsur dalam Menetapkan Hukum 147
Menegakkan Keadilan 149
Kaidah-kaidah Hukum Islam 151
Perbedaan Kaidah Fiqhiyyah dan Dhawabith Fiqhiyyah 157
Perbedaan antara Kaidah Fiqhiyyah dan Nazhariyat Fiqhiyyah 158
Perbedaan Kaidah Fiqhiyyah dan Kaidah Ushuliyyah 160
Kaidah-kaidah Asasiyah dan Jabarannya 165
Kaidah Pertama: الأمور بمقاصدها 165
Kaidah Kedua: المشقة تجلب التيسير 171
Kaidah Ketiga: اليقين لايزال بالشك 176
Kaidah Keempat: الضرر يزال 186
Kaidah Kelima: العادة محكمة 196
Kaidah-kaidah Umum (Kulliyyah) Lainnya 202
BAB 8 TEORI ILLAT SEBAGAI SEBUAH LANDASAN BERPIKIR FILOSOFIS 225
Pengertian Illat 225
Jenis-jenis Illat 236
Illat dari Segi Cara Mendapatkannya 236
Illat dari Segi Bisa atau tidaknya Diterapkan kepada Kasus Hukum Lainnya 239
Illat dari Segi Kegunaan dan Kedudukannya dalam Pensyariatan Hukum 242
Syarat-syarat Illat 248
Metode Penemuan Illat (Masalik al-Illat/Ta’lil al-Ahkam) 256
Menggunakan Nash atau Manshushah 256
Melalui Ijma’ 260
Melalui Istinbath (Penalaran) 261