Mae, Beni, Guntoro, dan Eman adalah empat sahabat. Lahir bareng, tumbuh besar sama-sama; senasib, sependeritaan, sepenanggungan. Hampir seluruh waktu mereka dihabiskan bersama, dengan formasi lengkap. Sampai pada suatu hari, kewajiban sejarah diturunkan pada Mae.
“Sebagai anak tunggal, kamu punya satu kewajiban sejarah terhadap keluarga.” “Kewajiban sejarah? Apa itu, Pak?” “….” “….” “Kamu harus nikah.” “HA?”
Namun, beberapa kali gagal dalam pencarian menantu, Ibunda Mae sakit keras. Mae pun memutuskan, untuk menyelamatkan sang Ibu, salah satu dari ketiga sahabatnya harus menikahinya. Jika Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu berpasangan, siapakah yang akan menjadi jodoh Mae?