Seharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi: ‘Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan’. Sekalipun ganjil terdengar, tapi itu penting. Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus lagi tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.
membaca buku ini seperti meminum kopi beraneka rasa, ada yang pahit dan ada yang manis... baik manis maupun pahit, semuanya memiliki kenikmatan tersendiri...
buku ini tidak membicarakan cinta yang cengeng... gak mungkin galau baca buku ini deh.. sebaiknya mungkin elo berpikir, jangan-jangan guem yang lebih galau dari tokoh-tokoh yang dihadirkan di buku ini. hehe.. buku karangan Dee ini mengajak kita berpikir dan merenung...
bahasa kiasannya sungguh indah, membuat kita jadi terpana, tetapi tidak membuat mulut kita menganga.. membaca buku ini seperti melihat panorama yang sejuk... dan patut kita menyebut Dee sebagai salah satu penulis diperhitungkan