Aku berusaha untuk tidak menghitung waktu, karena kutahu engkau akan pergi. Namun, waktu selalu berjalan sendiri, hingga kini kau benar-benar lepas dari genggamanku.
Sesakit apa pun kehilanganmu, aku tidak mau waktu terulang kembali. Sulit bagiku mengulang mengenalmu, kemudian kehilanganmu lagi.
Kau tahu? Sebenarnya kata-kata ini hanya sekedar stimulus, agar aku bisa tetap tegar. Nyatanya, aku selalu tertarik oleh gravitasimu. Tak peduli air mata jatuh berulang-ulang, ringkih menahan sakit yang entah sudah keberapa kali ... aku tetap menunggumu. Siap untuk kau hancurkan sekali lagi.
Bodoh? Memang!
Prahara hidup yang tak bisa kutinggalkan, hingga menjadi sebuah keabsurdan yang tak bisa kulogikakan.