Sendi-sendinya terasa ngilu. Rasa sesak dan nyeri di dadanya datang dan pergi. Napasnya pendek terengah-engah, membuatnya lemah kehilangan daya. Yakinlah dia tak akan sanggup lagi melanjutkan perjalanan sampai ke Makkah. Dia menyadari ajalnya sudah mendekat. Namun, ada yang menjadi beban pikirannya di detik-detik akhir hidupnya, Syaibah putra harapan kesayangannya.
Dengan pandangannya yang sayu, Hasyim mengamati saudaranya, Muththalib. Memintanya agar duduk lebih dekat tepat di sampingnya. Hasyim menyampaikan wasiatnya.