Sinopsis
iwa Fisha melayang-layang. Hatinya pun menjerit-jerit. Rasa kesakitan karena kanker rahim itu semakin memuncak, seiring jiwanya yang terkapar dalam ketidakberdayaan. Dengan tangan gemetar, ia usap air matanya dengan ujung jarinya. Ia tak menyangka bahwa hinaan dan kebencian itu akan menghadapkannya pada pilihan yang sangat tidak ia bayangkan: bercerai atau dimadu?
Ya, Allah … untuk inikah aku membangun rumah tanggaku? Setelah Kau angkat calon bayi dari rahimku? Setelah Kau buat dua kali aku keguguran? Setelah kujaga terus cinta dan sayangku kepada suamiku? Setelah Kau beri aku kesakitan dengan penyakit ini? Setelah Kau ambil ayahku? O inikah tujuan-Mu sesungguhnya, ya Rabb?
Endorsement:
“Pernikahan adalah ikatan yang paling suci, karena perjanjiannya tidak saja bersumpah atas nama Tuhan, tapi juga oleh kedua hati yang sama-sama mengikrarkan cinta. Novel ini, memberikan pelajaran kedua hal itu dengan cara yang begitu indah.”
—K.H. Ahmad Mustofa Bisri, ulama, budayawan, dan sastrawan
“Mas Aguk Irawan M.N. ini punya kekuatan deskripsi yang luar biasa. Setiap katanya memicu visualisasi di kepala saya. Sehingga membaca novel ini seperti menonton film. Jelas dan begitu dramatis!”.
—Danial Rifki, sutradara film La Tahzan dan Haji Backpacker
“Wahai para salehah, bacalah dan resapi. Dari buku ini kita belajar bahwa hidup adalah bongkahan-bongkahan perjuangan yang mengendap jadi pembelajaran lalu menggunung jadi kekuatan untuk menyambut bongkah berikut yang akan datang. Menang bukan karena berperang. Namun sebab kita tak pernah menyerah. Selamat menyelami kisah ini.”
—Peggy Melati Sukma, Inspirator Islami, Penulis, Aktivis Sosial, Aktris