
Sutan Takdir Alisjahbana adalah sastrawan, budayawan, dan ahli bahasa Indonesia yang berpengaruh besar dalam perkembangan sastra dan bahasa modern di tanah air. Ia lahir di Natal, Sumatera Utara, pada 11 Februari 1908, dari keluarga berlatar belakang Minangkabau.
Ia menempuh pendidikan di HIS Bengkulu, kemudian ke Kweekschool di Bukittinggi, dan Hogere Kweekschool (HKS) di Bandung. Kemudian ia juga belajar hukum dan memperoleh gelar Meester in de Rechten. Sepanjang hidupnya, ia menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia dan Universiti Sains Malaysia.
Pada 1933, bersama Amir Hamzah dan Armijn Pane, ia mendirikan majalah Poedjangga Baroe yang menjadi wadah penting bagi sastrawan angkatan baru. Melalui majalah itu, ia mendorong pembaruan sastra dan kebudayaan Indonesia yang lebih modern dan terbuka terhadap pengaruh Barat. Ia juga dikenal sebagai penulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), salah satu karya penting dalam perkembangan tata bahasa Indonesia.
Sebagai sastrawan, karyanya mencakup novel, puisi, dan esai. Novel terkenalnya antara lain Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan Layar Terkembang yang mengangkat tema emansipasi dan konflik antara tradisi serta modernitas. Ia juga aktif menulis esai tentang kebudayaan, bahasa, dan filsafat.
Selain menulis, Sutan Takdir Alisjahbana berperan sebagai pendidik dan pengajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Nasional (yang turut didirikannya), Universitas Andalas, dan Universiti Malaya. Ia juga terlibat dalam Komisi Bahasa Indonesia dan berbagai kegiatan kebudayaan.
Sutan Takdir Alisjahbana meninggal di Jakarta pada 17 Juli 1994. Pemikiran dan karya-karyanya tetap dikenang sebagai salah satu fondasi penting sastra dan bahasa Indonesia modern.