 Seno Gumira Ajidarma adalah penulis, wartawan, dan budayawan Indonesia yang lahir pada 19 Juni 1958 di Boston, Amerika Serikat. Ia dibesarkan di Yogyakarta sebagai putra Prof. Dr. M.S.A. Sastroamidjojo, guru besar di Universitas Gadjah Mada, dan dr. Poestika Kusuma Sujana. Sejak muda ia sudah akrab dengan dunia sastra dan seni.
Pada 1977 Seno pindah ke Jakarta dan kuliah di Jurusan Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (kini Institut Kesenian Jakarta). Ia menyelesaikan sarjana di sana pada 1994, kemudian meraih gelar Magister Ilmu Filsafat (2000) dan Doktor Ilmu Sastra (2005) dari Universitas Indonesia. Sejak usia 19 tahun ia sudah terjun ke dunia jurnalistik, antara lain di harian Merdeka, majalah Zaman, dan Jakarta-Jakarta.
Advertisement:
Sebagai penulis, Seno dikenal sangat produktif dan berani. Ia menulis cerpen, novel, esai, puisi, hingga naskah film. Karya-karyanya sering mengangkat isu sosial dan politik dengan gaya yang tajam, kadang realis, kadang surealis. Salah satu yang paling diingat adalah trilogi tentang Timor Timur: kumpulan cerpen Saksi Mata, novel Jazz, Parfum, dan Insiden, serta kumpulan esai Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Kredonya yang terkenal berbunyi, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.”
Beberapa kumpulan cerpennya yang dikenal luas antara lain Manusia Kamar, Penembak Misterius, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Sepotong Senja untuk Pacarku. Novel-novelnya meliputi Negeri Senja, Kitab Omong Kosong, Biola Tak Berdawai, dan seri Nagabumi. Atas karyanya, ia menerima berbagai penghargaan, di antaranya SEA Write Award (1997), Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997), dan Khatulistiwa Literary Award.
Selain menulis, Seno juga aktif sebagai fotografer, dosen, dan pernah menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2016–2020. Ia menikah dengan Ikke Susilowati dan dikaruniai seorang putra bernama Timur Angin. Hingga kini, Seno Gumira Ajidarma tetap menjadi salah satu suara penting dalam sastra dan kebudayaan Indonesia kontemporer.
|