| Tweet |
|
Topik:
|
Seni Menemukan Solusi yang Lebih BaikOleh Belbuk.com, 25/06/2025
Bab "Kebiasaan 6: Wujudkan Sinergi" sub bab “Memancing untuk Mendapatkan Alternatif Ketiga" dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey mengajak kita untuk tidak puas dengan pilihan “kamu atau saya”, melainkan mencari alternatif ketiga — solusi kreatif yang lebih baik daripada pandangan awal masing-masing pihak. Inilah esensi sinergi yang sebenarnya: menciptakan hasil baru, bukan hanya mengambil jalan tengah.Untuk mendapatkan gagasan yang lebih baik tentang bagaimana tingkat komunikasi kita mempengaruhi efektivitas kesalingtergantungan kita, bayangkanlah skenario berikut ini: Advertisement:
Saat ini masa liburan, dan seorang suami ingin mengajak keluarganya ke desa di dekat danau untuk berkemah dan memancing. Hal ini penting baginya karena ia sudah merencanakannya sepanjang tahun. Ia sudah memesan tempat di sebuah pondok di tepi danau dan memesan perahu sewaan, dan putra-putranya ingin sekali pergi. Namun istrinya ingin menggunakan masa liburan itu untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit di rumahnya yang berjarak 250 mil dari tempat mereka. Si istri jarang mempunyai kesempatan untuk menengok ibunya, dan hal ini penting baginya. Perbedaan mereka dapat menjadi penyebab bagi pengalaman negatif yang besar.
"Rencana sudah dibuat. Anak-anak ingin sekali pergi. Kita harus melanjutkan perjalanan memancing ini," kata si suami. "Tapi, kita tidak tahu berapa lama lagi ibuku akan bertahan, dan aku ingin berada di dekatnya. Inilah satu-satunya kesempatan dengan waktu yang cukup untuk pergi ke sana," jawab istrinya. "Sepanjang tahun kita sudah menantikan liburan satu minggu ini. Anak-anak akan menderita karena terpaksa duduk-duduk saja di rumah neneknya selama seminggu. Mereka akan membuat jengkel semua orang. Selain itu, penyakit ibumu tidak terlalu parah. Dan ada saudara perempuanmu yang tinggal kurang dari satu mil jauhnya untuk mengurusnya." "Ia ibuku juga. Aku ingin bersamanya." "Ia sudah diurus dengan baik. Lagi pula, anak-anak dan aku juga membutuhkanmu." "Ibuku lebih penting daripada memancing." "Suamimu dan anak-anakmu lebih penting daripada ibumu." Mereka tidak sepakat, tetapi akhirnya mereka mungkin muncul dengan semacam kompromi. Mereka mungkin memutuskan untuk berpisah. Si suami mengajak anak-anaknya memancing di danau sementara si istri mengunjungi ibunya. Dan mereka sama-sama merasa bersalah dan sedih. Anak-anak merasakannya, dan ini mempengaruhi kesenangan mereka selama liburan. Si suami mungkin menyerah pada kehendak istrinya, tetapi ia menurut dengan enggan. Dan sadar atau tidak, ia menampilkan bukti-bukti memenuhi ramalannya mengenai betapa minggu tersebut akan membuat semua orang menderita. Si istri mungkin menyerah menyerah pada kemauan suaminya, tetapi ia akan menarik diri dan bereaksi berlebihan terhadap perkembangan baru apa pun mengenai situasi kesehatan ibunya. Jika penyakit ibunya semakin parah dan akhirnya ibunya meninggal, suaminya tidak pernah dapat memaafkan dirinya sendiri, dan ia juga tidak dapat memaafkan suaminya. Apa pun kompromi yang akhirnya mereka sepakati, maka kompromi itu mungkin diulang selama bertahun-tahun sebagai bukti ketidakpekaan, pengabaian, atau keputusan yang buruk mengenai prioritas pada kedua belah pihak. Ini dapat menjadi sumber pertikaian selama bertahun-tahun dan bahkan dapat menyebabkan terbentuknya dua kutub yang berlawanan. Banyak perkawinan yang semula indah dan lembut dan spontan dan penuh kasih memburuk sampai tingkat kebencian melalui serangkaian insiden seperti ini. Suami istri tersebut melihat situasinya dengan cara yang berbeda. Dan perbedaan itu dapat menyebabkan mereka berdiri pada kutub yang bertentangan, memisahkan mereka, menciptakan keretakan dalam hubungan mereka. Atau insiden itu dapat membawa mereka lebih dekat satu sama lain ke tingkat yang lebih tinggi. Jika mereka mengembangkan kebiasaan kesalingtergantungan yang efektif, mereka pun mendekati perbedaan mereka dari paradigma yang sepenuhnya berbeda. Komunikasi mereka terjadi pada tingkat yang lebih tinggi. Karena mereka mempunyai rekening bank emosi yang tinggi, mereka memiliki kepercayaan dan komunikasi yang terbuka dalam perkawinan mereka. Karena mereka berpikir Menang/Menang, mereka percaya akan alternatif ketiga, suatu solusi yang sama-sama menguntungkan dan lebih baik daripada apa yang mereka berdua semula usulkan. Karena mereka mendengar dengan empati dan berusaha mengerti terlebih dahulu, mereka menciptakan pada diri mereka dan di antara diri mereka sebuah gambaran yang komprehensif mengenai nilai dan kekhawatiran yang perlu diperhitungkan dalam mengambil sebuah keputusan. Dan kombinasi dari unsur-unsur ini: rekening bank emosi yang tinggi, berpikir Menang/Menang, dan berusaha mengerti terlebih dahulu, akan menciptakan lingkungan yang ideal untuk sinergi. Buddhisme menyebut hal ini "jalan tengah". Tengah dalam pengertian ini bukan berarti kompromi, melainkan lebih tinggi seperti puncak dari sebuah segitiga. Dalam mencari jalan tengah atau jalan yang lebih tinggi, suami dan istri ini menyadari bahwa kasih mereka, hubungan mereka, adalah bagian dari sinergi mereka. Sementara mereka berkomunikasi, si suami benar-benar merasa secara mendalam keinginan istrinya, kebutuhannya untuk berada bersama ibunya. Ia mengerti betapa istrinya ingin membantu saudara perempuannya yang selama ini mempunyai tanggung jawab utama untuk mengurus ibu mereka. Si suami mengerti bahwa mereka tidak benar-benar tahu berapa lama ibu istrinya akan bertahan, dan bahwa ia pasti lebih penting daripada memancing. Dan si istri mengerti secara mendalam keinginan suaminya untuk mengumpulkan keluarganya dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak mereka. Si istri sadar akan investasi yang sudah dibuat untuk pelajaran dan peralatan dalam menyiapkan liburan memancing ini, dan ia merasa pentingnya menciptakan kenangan yang manis bersama mereka. Akhirnya mereka menampung keinginan-keinginan itu. Dan mereka tidak berada pada sisi yang berlawanan dalam masalah tersebut. Mereka bersama-sama berada pada satu sisi, melihat masalah, mengerti kebutuhan, dan berusaha menciptakan alternatif ketiga yang akan mengatasi itu semua. "Mungkin kita dapat mengatur waktu lain dalam bulan yang sama agar kau dapat mengunjungi ibumu," si suami menyarankan. "Aku dapat mengambil alih tanggung jawab rumah tangga selama akhir pekan dan mencari tenaga pembantu pada awal minggu itu supaya kau dapat pergi. Aku tahu penting bagimu untuk ke sana. Atau mungkin kita dapat mencari tempat untuk berkemah dan memancing yang dekat dengan rumah ibumu. Daerahnya mungkin tidak sama indahnya, tetapi kita tetap dapat berada di luar rumah dan memenuhi kebutuhan lain sekaligus. Dan anak-anak tidak akan perlu merasa terkungkung. Kita bahkan dapat merencanakan beberapa kegiatan rekreasi bersama sepupu, bibi, dan paman, dan itu akan menambah keuntungan." Mereka mewujudkan sinergi. Mereka berkomunikasi bolak-balik hingga mereka muncul dengan sebuah solusi yang membuat mereka sama-sama senang. Hal ini lebih baik daripada solusi yang semula mereka usulkan. Ini lebih baik daripada kompromi. Ini merupakan solusi sinergis yang membangun P dan KP. Yang terjadi bukanlah transaksi, melainkan transformasi. Mereka mendapatkan apa yang mereka sama-sama sangat inginkan dan mereka membina hubungan mereka dalam proses yang terjadi. Sinergi NegatifMencari alternatif ketiga adalah perubahan paradigma yang besar dari mentalitas dikotomi. Berapa banyak energi negatif yang biasanya dikeluarkan ketika orang berusaha memecahkan masalah atau mengambil keputusan dalam realitas kesalingtergantungan? Berapa banyak waktu dihabiskan dalam membeberkan dosa orang lain, berpolitik, persaingan, konflik antarpribadi, melindungi diri dari belakang, penguasaan pikiran, dan dugaan-dugaan buruk? Rasanya seperti berusaha mengemudi dengan satu kaki pada pedal gas dan kaki yang satunya pada rem! Dan bukannya melepaskan kaki dari pedal rem, kebanyakan orang malah menekan pedal gas. Mereka berusaha menerapkan tekanan yang lebih besar, kefasihan berbicara yang lebih mahir, informasi logis yang lebih kuat untuk menguatkan posisi mereka. Masalahnya adalah bahwa ada orang yang sangat tergantung yang berusaha untuk sukses di dalam realitas kesalingtergantungan. Mereka bergantung dengan meminjam kekuatan dari kekuasaan posisi dan menggunakan Menang/Kalah, atau mereka bergantung untuk menjadi populer dengan orang lain dan menggunakan Kalah/Menang. Mereka mungkin membicarakan teknik Menang/Menang, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mau mendengarkan, tetapi mereka memanipulasi. Dan sinergi tidak dapat tumbuh subur dalam lingkungan ini. Orang-orang yang merasa tidak aman berpikir bahwa semua realitas harus sesuai dengan paradigma mereka. Mereka memilih kebutuhan yang tinggi untuk membuat duplikat orang lain, untuk mencetak orang lain ke dalam cara berpikir mereka. Mereka tidak sadar bahwa kekuatan hubungan itu sendiri adalah dengan memiliki juga sudut pandang orang lain. Kesamaan bukanlah kesatuan dan keseragaman bukanlah keunggulan. Kesatuan, atau persatuan, adalah saling melengkapi, bukan kesamaan. Kesamaan tidak kreatif dan membosankan. Intisari sinergi adalah menghargai perbedaan. Salah satu dari hasil paling praktis untuk berpusat pada prinsip adalah bahwa hal ini membuat kita utuh, terintegrasi sepenuhnya. Orang yang naskah hidupnya terpatri dengan cara berpikir otak kiri, logis, dan verbal akan merasakan betapa tidak memadainya cara berpikir untuk memecahkan masalah yang memerlukan kreativitas yang besar. Mereka menjadi sadar dan mulai membuka naskah baru dalam otak kanan mereka. Hal ini bukan berarti bahwa otak kanan mereka tidak ada, melainkan bagian ini sedang lelap. Otot-ototnya tidak terlatih, atau barangkali menjadi lumpuh sejak kecil karena penekanan yang besar pada otak kiri dalam pendidikan formal atau penulisan naskah sosialnya. Ketika seseorang mempunyai akses ke otak kanan yang intuitif, kreatif, dan visual, dan otak kiri yang analitis, logis, dan verbal, maka keseluruhan otak pun bekerja. Dengan kata lain, ada sinergi psikis yang terjadi di dalam kepala kita. Dan alat ini paling cocok untuk realitas kehidupan yang sebenarnya karena kehidupan tidak sekadar logis, tetapi juga emosional. Advertisement:
Jadi, bab "Kebiasaan 6: Wujudkan Sinergi" sub bab “Memancing untuk Mendapatkan Alternatif Ketiga" dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, menjelaskan bahwa ketika dua kepala saling terbuka dan berkolaborasi, hasilnya bukan sekadar kompromi, tapi inovasi. “Memancing alternatif ketiga” bukan hanya teknik, tapi mindset: keyakinan bahwa sinergi mampu membawa kita lebih jauh daripada kemampuan individu.
|