 Sabaa Tahir adalah penulis Amerika keturunan Pakistan yang dikenal luas melalui novel-novel young adult, terutama seri fantasi epik An Ember in the Ashes. Ia lahir di London pada 1983 dari orang tua yang berimigrasi dari Pakistan. Saat masih bayi, keluarganya pindah ke Amerika Serikat dan menetap di Ridgecrest, sebuah kota kecil di Gurun Mojave, California. Di sana, ia tumbuh besar di motel milik keluarganya yang memiliki 18 kamar.
Masa kecilnya diisi dengan membaca novel fantasi, komik milik kakaknya, mendengarkan musik indie rock, serta bermain gitar dan piano. Pengalaman hidup di lingkungan yang terpencil sekaligus multikultural itu kelak memengaruhi gaya berceritanya yang kaya akan suasana dan konflik.
Advertisement:
Tahir menempuh pendidikan di University of California, Los Angeles (UCLA). Selama kuliah, ia sempat magang di The Washington Post, dan setelah lulus bekerja sebagai copy editor di media yang sama. Saat bekerja malam hari sebagai editor surat kabar, ia mulai menulis naskah yang kemudian menjadi novel debutnya.
Pada 2015, An Ember in the Ashes terbit dan langsung meraih sukses besar. Novel fantasi yang terinspirasi oleh kekaisaran Romawi kuno ini menceritakan kisah Laia, seorang budak yang berjuang menyelamatkan keluarganya, dan Elias, seorang prajurit yang ingin bebas dari sistem yang menindas. Buku tersebut menjadi New York Times bestseller dan masuk dalam daftar 100 Best Fantasy Books of All Time versi majalah TIME. Seri ini dilanjutkan dengan A Torch Against the Night (2016), A Reaper at the Gates (2018), dan A Sky Beyond the Storm (2020). Seluruh seri telah diterjemahkan ke lebih dari 35 bahasa.
Pada 2022, Tahir merilis novel kontemporer berjudul All My Rage. Karya ini memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk National Book Award for Young People’s Literature, Michael L. Printz Award, dan Boston Globe–Horn Book Award. Novel tersebut mengeksplorasi tema keluarga, kehilangan, pengampunan, serta pengalaman imigran lintas generasi.
Advertisement:
Selain menulis fiksi, Tahir juga pernah menerbitkan esai dan ulasan di media seperti The New York Times, The Washington Post, dan Vox. Saat ini ia tinggal di kawasan San Francisco Bay Area bersama keluarganya. Melalui karya-karyanya, Sabaa Tahir dikenal mampu memadukan ketegangan, emosi, dan isu-isu sosial dengan cara yang menggugah, menjadikannya salah satu suara penting dalam sastra young adult kontemporer.
|