Belbuk.comtoko buku onlineBuku Original021-4202857
Topik:
 

Respons Autobiografis: Hambatan Terbesar dalam Komunikasi Efektif

Oleh Belbuk.com, 20/06/2025
Respons Autobiografis: Hambatan Terbesar dalam Komunikasi EfektifBab "Kebiasaan 5: Berusaha Dimengerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti" sub bab “Empat Respons Autobiografis”dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menjelaskan bahwa dalam komunikasi antarmanusia, sering kali kita berpikir kita mendengarkan. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah kita menilai, menafsirkan, memberi nasihat, atau bertanya — semua berdasarkan sudut pandang kita sendiri, bukan dari orang yang sedang berbicara.

Karena kita mendengarkan secara autobiografis, kita cenderung berespons dalam salah satu dari empat cara. Kita mengevaluasi, yaitu kita setuju atau tidak setuju; kita menyelidik, yaitu kita mengajukan pertanyaan dari kerangka acuan kita sendiri; kita menasihati, yaitu kita memberikan nasihat berdasarkan pengalaman kita sendiri; atau kita menafsirkan, yaitu kita berusaha memahami orang, menjelaskan motif mereka, perilaku mereka, berdasarkan motif dan perilaku kita sendiri.
Advertisement:
Respons-respons ini muncul secara wajar. Naskah hidup kita ditulis secara mendalam dengan keempat respons tadi dan kita hidup di sekitar model-model keempat respons tersebut sepanjang waktu. Akan tetapi bagaimanakah keempat respons tersebut mempengaruhi kemampuan kita untuk benar-benar mengerti?

Jika kita berusaha berkomunikasi dengan putra kita, dapatkah ia merasa bebas untuk membuka diri kepada kita ketika kita mengevaluasi semua yang ia katakan sebelum ia benar-benar menjelaskannya? Apakah kita memberinya udara psikologis? Dan bagaimana perasaannya ketika kita menyelidik? Menyelidik bersifat autobiografis, mengendalikan, dan menguasai. Memang logis, dan bahasa logika berbeda dengan bahasa perasaan dan emosi. Penyelidikan yang terus-menerus adalah salah satu alasan utama mengapa orangtua tidak dapat dekat dengan anak-anak mereka.

"Bagaimana keadaanmu, Nak?"

"Baik."

"Nah, ada kejadian apa belakangan ini?"

"Tidak ada apa-apa."

"Jadi, apa yang menarik di sekolah?"

"Tidak banyak."

"Dan apa rencanamu untuk akhir pekan ini?"

"Entahlah."

Kita tidak dapat membuatnya melepaskan gagang telepon sewaktu ia mengobrol dengan temannya, tetapi yang ia berikan kepada kita cuma jawaban satu atau dua patah kata. Rumah kita adalah motel tempat ia makan dan tidur, tetapi ai tidak pernah berbagi, tidak pernah membuka diri. Dan ketika kita pikir-pikir dengan jujur, mengapa ia harus terbuka jika setiap kali ia membuka kelemahannya, kita menghantamnya dengan nasihat autobiografis dan "Kan sudah Ayah/Ibu katakan." Naskah hidup kita sudah tertulis begitu kokoh dengan respons ini sehingga kita bahkan tidak sadar telah menggunakannya.

Kita tidak akan pernah dapat benar-benar melangkah ke dalam diri orang lain, untuk melihat dunia sebagaimana ia memandangnya sebelum kita mengembangkan keinginan yang murni, kekuatan dari karakter pribadi, dan rekening bank emosi yang positif, sekaligus keterampilan mendengar secara empatik. Keterampilan tersebut, ujung gunung es dari mendengar secara empatik, memerlukan empat tingkat perkembangan. Yang pertama dan paling tidak efektif adalah meniru isi. Ini adalah keterampilan yang diajarkan dalam mendengar secara "aktif" atau "reflektif". Tanpa dasar karakter dan hubungan, hal ini sering seolah menghina orang dan menyebabkan mereka menutup diri. Namun, ini merupakan keterampilan tingkat pertama karena setidaknya menyebabkan kita mendengarkan apa yang sedang dikatakan. Meniru isi mudah. Kita cuma mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut seseorang dan kita mengulanginya. Kita bahkan hampir tidak menggunakan otak kita sama sekali.


"Ayah, aku sudah jenuh! Sekolah cuma untuk burung!"

"Kamu sudah jenuh. Kamu pikir sekolah cuma untuk burung."

Kita pada dasarnya mengulang kembali isi dari apa yang sedang diucapkan. Kita belum mengevaluasi atau menyelidiki atau menasihati atau menafsirkan. Kita setidaknya sudah memperlihatkan bahwa kita menaruh perhatian pada kata-katanya. Namun untuk mengerti, kita perlu berbuat lebih dari itu.

Tahap kedua mendengar secara empatik adalah menyatakan isi dengan cara lain. Ini sedikit lebih efektif, tetapi masih terbatas pada komunikasi verbal.

"Ayah, aku sudah jenuh! Sekolah cuma untuk burung!"

"Kamu tidak mau sekolah lagi."

Kali ini, kita memasukkan makna dari apa yang dikatakannya dengan kata-kata kita sendiri. Sekarang kita berpikir tentang apa yang dikatakannya, terutama dengan sisi kiri, penalaran, sisi logis dari otak.

Tingkat ketiga membuat otak kanan kita beroperasi. Kita merefleksikan perasaan.

"Ayah, aku sudah jenuh! Sekolah cuma untuk burung!"

"Kamu benar-benar frustrasi mengenai sekolah."

Frustrasi adalah perasaan; sekolah adalah isi. Kita menggunakan kedua sisi otak kita untuk mengerti kedua sisi komunikasinya.

Sekarang, apa yang terjadi ketika kita menggunakan tingkat keempat keterampilan mendengar secara empatik akan memberi perbedaan yang luar biasa. Ketika kita sungguh-sungguh berusaha mengerti, ketika kita mengulang isi dan merefleksikan perasaan, kita memberinya udara psikologis. Kita juga membantunya mengkaji pikiran dan perasaannya. Ketika keyakinannya tumbuh terhadap keinginan kita yang tulus untuk benar-benar mendengarkan dan mengerti, maka hilanglah penghalang antara apa yang berlangsung di dalam dirinya dan apa yang sedang dikomunikasikan pada kita. Hal ini membuka aliran jiwa dengan jiwa. Ia tidak memikirkan dan merasakan satu hal dan mengkomunikasikan hal lain. Ia mulai mempercayai kita dengan perasaan dan gagasannya yang halus dan paling dalam.

"Ayah, aku sudah jenuh! Sekolah cuma untuk burung!"

"Kamu benar-benar frustrasi mengenai sekolah."

"Ya. Benar-benar tidak praktis. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah."

"Kamu merasa sekolah tidak memberimu apa pun yang baik."

"Aku cuma tidak belajar sesuatu yang akan menolongku. Maksudku, lihat Joe. Ia putus sekolah dan ia memperbaiki mobil. Ia menghasilkan uang. Nah, itu yang dikatakan praktis."

"Kamu merasa gagasan Joe benar."

"Kukira sedikit banyak memang begitu. Ia benar-benar menghasilkan uang sekarang. Tapi dalam beberapa tahun, aku yakin ia akan menyesali diri."

"Kamu pikir Joe akan merasa ia telah mengambil keputusan yang salah."

"Pasti. Coba lihat apa yang sudah ia lepaskan. Maksudku, jika kita tidak mendapat pendidikan, kita benar-benar tidak dapat berhasil di dunia ini."

Betapa besarnya perbedaan yang dapat ditimbulkan oleh pengertian yang benar! Semua nasihat dengan niat baik di dunia ini tidak akan memberi banyak hasil jika kita tidak mengerti masalah yang sebenarnya. Dan kita tidak akan pernah tiba pada masalah itu jika kita begitu terpesona dengan autobiografi kita sendiri, paradigma kita sendiri, sehingga kita tidak melepaskan kacamata kita untuk melihat dunia dari sudut pandang lain.

"Aku pasti gagal, Ayah. Kukira jika aku gagal, aku mungkin sebaiknya berhenti saja. Tapi, aku tidak mau berhenti."

"Kamu merasa bingung. Kamu berada di tengah sebuah dilema."

"Menurut Ayah, apa yang harus kulakukan?"

Dengan berusaha mengerti lebih dahulu, kita baru saja mengubah sebuah peluang transaksional menjadi peluang transformasional. Alih-alih berinteraksi pada level permukaan komunikasi, kita telah menciptakan sebuah situasi di mana kita sekarang dapat memiliki dampak yang mentransformasikan, bukan hanya atas diri putra kita tetapi juga pada hubungan kita. Dengan mengesampingkan autobiografi kita sendiri dan benar-benar berusaha untuk mengerti, kita telah menambah deposito yang besar sekali pada rekening bank emosi dan telah memberi kekuatan kepada anak kita untuk membuka diri, lapis demi lapis, dan tiba pada persoalan yang sebenarnya.

Sekarang kita dan anak kita sudah berada pada sisi meja yang sama dalam memandang masalah, dan bukan sisi yang berseberangan sambil saling menatap. Anak kita membuka autobiografi kita dan meminta nasihat. Ada kalanya transformasi tidak memerlukan nasihat dari luar. Acap kali ketika orang benar-benar diberi kesempatan untuk membuka diri, mereka menguraikan masalah mereka sendiri dan dalam prosesnya solusi pun menjadi jelas bagi mereka.

Jika orang benar-benar terluka dan kita benar-benar mendengarkan dengan keinginan murni untuk mengerti, kita akan takjub melihat betapa cepatnya mereka akan membuak diri. Mereka ingin terbuka. Anak-anak sungguh-sungguh ini membuka diri, lebih kepada orangtua mereka ketimbang teman sebaya. Dan mereka akan membuka diri jika mereka merasa orangtua mereka mau mencintai mereka tanpa syarat dan akan setia kepada mereka sesudahnya dan tidak menghakimi atau mengolok-olok mereka.

Jika kita sungguh-sungguh berusaha mengerti, tanpa kemunafikan dan tanpa akal bulus, maka akan ada masa-masa ketika kita akan benar-benar terpesona dengan pengetahuan dan pengertian murni yang mengalir kepada kita dari orang-orang lain. Bahkan tidak selalu perlu untuk berbicara untuk berempati. Sebenarnya, kadang kata-kata cuma malah menghalangi. Itulah satu alasan yang sangat penting mengapa teknik saja tidak akan berhasil. Pengertian melebihi teknik. Teknik yang berdiri sendiri hanya menjadi penghalang.

Kita perlu memiliki keterampilan, tetapi keterampilan tidak akan efektif jika tidak datang dari keinginan tulus untuk mengerti. Orang tidak menyukai upaya apa pun untuk memanipulasi mereka. Sebenarnya, jika kita berhadapan dengan orang yang dekat dengan kita, akan membantu jika kita mengatakan pada mereka apa yang sedang kita lakukan.

Ada orang yang mungkin memprotes bahwa mendengar secara empatik menghabiskan terlalu banyak waktu. Mungkin diperlukan sedikit lebih banyak waktu pada awalnya, tetapi akan menghemat begitu banyak waktu nantinya. Hal paling efisien yang dapat kita perbuat jika kita seorang dokter dan ingin membuat resep untuk pengobatan yang bijaksana adalah dengan membuat diagnosis yang akurat. Kita tidak dapat mengatakan, "Saya terlalu terburu-buru. Saya tidak punya waktu untuk membuat diagnosis. Ambil saja obat ini."

Mendengar secara empatik membutuhkan waktu, tetapi tidak sebanyak waktu yang dibutuhkan untuk mundur dan memperbaiki kesalahpahaman, untuk mengerjakan ulang, untuk hidup dengan masalah yang tidak terungkap dan terpecahkan, untuk berhadapan dengan hasil dari tidak adanya pemberian udara psikologis kepada orang lain. Seorang pendengar empatik yang cerdas dapat membaca apa yang sedang terjadi secara mendalam dan cepat, dan dapat memperlihatkan penerimaan sebegitu rupa, pengertian sedemikian rupa, sehingga orang lain merasa aman untuk membuka lapis demi lapis sampai mereka tiba pada inti terdalam yang lunak tempat masalah benar-benar ada.

Orang ingin dimengerti. Dan investasi waktu apa pun yang diperlukan untuk melakukan itu akan membawa keuntungan waktu jauh lebih besar jika kita bekerja berdasarkan pemahaman yang akurat atas masalah dan isu dan dari rekening bank emosi yang tinggi yang dihasilkan ketika seseorang merasa dimengerti secara mendalam.
Advertisement:
Jadi, bab "Kebiasaan 5: Berusaha Dimengerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti" sub bab “Empat Respons Autobiografi" dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, menjelaskan bahwa cermin dari kecenderungan alami kita dalam berkomunikasi: kita lebih fokus pada diri sendiri daripada pada orang lain. Namun, kesadaran atas pola ini adalah langkah awal untuk memperbaiki kualitas hubungan.

Versi Video:

The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif)
Rp99.500
©2008-2026 - Belbuk.com
Jl. As'syafiiyah No. 60B, Cilangkap, Jakarta Timur 13870
Tlp. 021-22811835 (Senin s/d Jumat Pkl 09.00-18.00 WIB)