
Nur Sutan Iskandar adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka yang lahir dengan nama Muhammad Nur pada 3 November 1893 di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga Minangkabau. Setelah menikah dengan Aminah, ia memperoleh gelar Sutan Iskandar dari keluarga istrinya, sehingga kemudian dikenal luas dengan nama Nur Sutan Iskandar.
Setelah menamatkan sekolah rakyat pada 1909, ia bekerja sebagai guru bantu. Pada 1919 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Balai Pustaka, bermula sebagai korektor naskah. Berkat ketekunan dan kemampuannya, ia naik menjadi Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925–1942), lalu Kepala Pengarang (1942–1945). Di lembaga inilah kreativitasnya berkembang pesat.
Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai salah satu sastrawan paling produktif di generasinya. Ia menulis puluhan karya, baik novel asli maupun saduran dan terjemahan. Beberapa karyanya yang dikenal antara lain Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Abu Nawas (1929), Karena Mentua (1932), Hulubalang Raja, dan Cinta Tanah Air (1944). Ia juga menerjemahkan karya pengarang asing seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard, dan Arthur Conan Doyle. Banyak novelnya mengangkat persoalan adat, konflik generasi, dan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Setelah kemerdekaan, ia sempat aktif di Partai Nasional Indonesia, mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1955–1960), serta menjadi anggota Konstituante. Atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan, ia menerima Satyalencana Kebudayaan pada 1961. Nur Sutan Iskandar meninggal di Jakarta pada 28 November 1975 dalam usia 82 tahun.