Belbuk.comtoko buku onlineBuku Original021-4202857
Topik:
 

Hubungan "Menang/Menang" Akan Membuat Kita Lebih Sukses dalam Bidang Apa Pun

Oleh Belbuk.com, 18/06/2025
Hubungan "Menang/Menang" Akan Membuat Kita Lebih Sukses dalam Bidang Apa PunBab "Kebiasaan 4: Berpikir Menang/Menang" sub bab “Enam Paradigma Interaksi Manusia”dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menjelaskan bahwa dalam hubungan antarmanusia, terdapat enam paradigma dasar yang menggambarkan cara kita memandang dan memperlakukan orang lain dalam konteks kerja sama, konflik, dan pencapaian tujuan. Covey menekankan bahwa efektivitas hubungan sangat bergantung pada paradigma yang kita gunakan.

Entah kita presiden perusahaan atau penjaga pintu, pada saat kita melangkah dari kemandirian ke saling tergantung dalam kapasitas apa pun, kita melangkah memasuki peran kepemimpinan. Kita berada pada posisi mempengaruhi orang lain. Dan kebiasaan kepemimpinan antarpribadi yang efektif adalah Berpikir Menang/Menang.
Advertisement:

Enam Paradigma Interaksi Manusia


Menang/Menang bukanlah teknik, melainkan filosofi total interaksi manusia. Sebenarnya, ini merupakan salah satu dari enam paradigma interaksi. Paradigma alternatifnya adalah Menang/Kalah, Kalah/Menang, Kalah/Kalah, Menang, dan Menang/Menang atau tidak Tidak Sama Sekali.

Menang/Menang


Menang/Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik. Dengan solusi Menang/Menang, semua pihak merasa senang dengan keputusan dan merasa terikat dengan rencana tindakannya. Menang/Menang melihat kehidupan sebagai arena yang kooperatif, bukan kompetitif. Kebanyakan orang cenderung berpikir secara dikotomi: kuat atau lemah, keras atau lunak, menang atau kalah. Akan tetapi cara berpikir seperti ini pada dasarnya cacat. Cara berpikir ini didasarkan pada kekuasaan dan posisi dan bukan pada prinsip. Menang/Menang didasarkan pada paradigma bahwa ada banyak untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain. Menang/Menang adalah kepercayaan akan Alternatif Ketiga. Ia bukan jalan Anda atau jalan saya; ia adalah jalan yang "lebih baik", jalan yang lebih tinggi.

Menang/Kalah


Salah satu alternatif untuk Menang/Menang adalah Menang/Kalah. Paradigma ini mengatakan, "Jika saya menang, Anda kalah." Dalam gaya kepemimpinan, Menang/Kalah adalah pendekatan otoriter: "Saya mendapatkan apa yang saya inginkan; Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan." Orang Menang/Kalah cenderung menggunakan jabatan, kekuasaan, mandat, barang milik, atau kepribadian untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Kebanyakan orang sudah terpatri secara mendalam oleh naskah mentalitas Menang/Kalah sejak lahir. Kekuatan-kekuatan yang bekerja adalah keluarga yang pertama dan paling penting. Ketika seorang anak dibandingkan dengan anak lain, orang pun masuk ke dalam cara berpikir Menang/Kalah. Setiap kali kasih diberikan secara bersyarat, ketika seseorang harus berusaha memperoleh kasih, apa yang dikomunikasikan kepada mereka adalah bahwa mereka secara intrinsik tidak berharga atau tidak pantas dicinta. Nilai tidak terdapat dalam diri mereka, tetapi di luar. Nilai ada dalam perbandingan dengan orang lain atau berdasarkan harapan.

Dan apa yang terjadi pada pikiran dan hati yang masih muda, yang sangat rentan, sangat bergantung kepada dukungan dan peneguhan emosional orangtua, di hadapan kasih yang bersyarat? Anak dicetak, dibentuk, diprogram dalam mentalitas Menang/Kalah.

Satu lagi biro penulisan naskah yang kuat adalah kelompok sebaya. Seorang anak lebih dahulu membutuhkan penerimaan dari orangtuanya dan kemudian dari rekan sebaya, entah mereka saudara kandung atau teman. Dan kita semua tahu betapa kejamnya kadang rekan sebaya itu. Mereka sering menerima atau menolak sepenuhnya atas dasar kesesuaian dengan harapan dan norma mereka, yang memberi tambahan penulisan naskah Menang/Kalah.

Dunia akademis mengukuhkan penulisan naskah Menang/Kalah. "Kurva distribusi normal" pada dasarnya mengatakan bahwa kita mendapatkan "A" karena orang lain mendapatkan "C". Ini menafsirkan nilai seseorang dengan membandingkannya dengan orang lain. Tidak ada pengakuan yang diberikan kepada nilai intrinsik; semua orang didefinisikan secara ekstrinsik.

Satu agen lain adalah hukum. Kita hidup pada masyarakat yang suka menuntut. Hal pertama yang banyak melintas dalam pikiran orang ketika mereka terlibat dalam kesulitan adalah menuntut seseorang, membawanya ke pengadilan, "menang" dengan mengorbankan orang lain. Padahal pikiran yang defensif tidaklah kreatif dan kooperatif. Tentu saja kita memerlukan hukum karena kalau tidak maka masyarakat akan hancur. Hukum mendukung kelangsungan hidup, tetapi tidak menciptakan sinergi. Paling jauh hukum hanya menghasilkan kompromi. Hukum didasarkan pada konsep permusuhan.

Tentu saja ada tempat untuk berpikir Menang/Kalah dalam situasi dalam situasi yang benar-benar kompetitif dan berkepercayaan rendah. Tetapi sebagian besar hidup bukanlah kompetisi. Kita tidak perlu hidup setiap hari dalam persaingan dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, rekan sekerja kita, tetangga kita, dan teman-teman kita. "Siapa yang menang dalam perkawinan Anda?" adalah pertanyaan yang menggelikan. Jika dua-duanya tidak menang, maka keduanya kalah.

Sebagian besar kehidupan merupakan realitas saling tergantung, bukan mandiri. Kebanyakan hasil yang kita inginkan bergantung pada kerja sama antara kita dan orang lain. Dan mentalitas Menang/Kalah mengganggu fungsi kerja sama itu.

Kalah/Menang


Kalah/Menang lebih buruk daripada Menang/Kalah karena tidak mempunyai standar, yaitu tidak mempunyai tuntutan, tidak mempunyai harapan, tidak mempunyai visi. Orang yang berpikir Kalah/Menang biasanya cepat berusaha menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka mencari kekuatan dan popularitas atau penerimaan. Mereka hanya mempunyai sedikit keberanian untuk mengekspresikan perasaan dan keyakinan mereka dan dengan mudah diintimidasi oleh kekuatan ego orang lain.

Orang Menang/Kalah menyukai orang Kalah/Menang karena mereka dapat hidup dari orang seperti ini. Mereka suka kelemahan orang Kalah/Menang dan mereka mengambil keuntungan dari orang-orang ini. Kelemahan ini melengkapi kekuatan mereka.

Baik Menang/Kalah maupun Kalah/Menang adalah posisi yang lemah, yang didasarkan pada rasa tidak aman pribadi. Dalam jangka pendek, Menang/Kalah akan memberi hasil lebih banyak karena cara ini memanfaatkan kekuatan dan bakat yang biasanya memang besar pada orang-orang di puncak. Kalah/Menang lemah dan kacau sejak awalnya.

Kalah/Kalah


Ketika dua orang Menang/Kalah berkumpul, yaitu ketika dua orang yang ulet, berkepala batu, dan berinvestasi pada ego saling berinteraksi, hasilnya adalah Kalah/Kalah. Keduanya akan kalah. Keduanya sama-sama ingin membalas dendam, buta terhadap kenyataan bahwa pembunuhan adalah bunuh diri, bahwa pembalasan dendam adalah pedang bermata dua.

Sebuah perceraian di mana si suami diperintahkan oleh hakim untuk menjual asetnya dan membagi dua dengan mantan istrinya. Dengan patuh ia menjual sebuah mobil yang harganya 10.000 dolar dengan harga 50 dolar dan memberikan 25 dolar kepada istrinya. Ketika si istri protes, petugas pengadilan memeriksa situasinya dan mendapatkan bahwa si suami melakukan hal yang sama secara sistematis sewaktu menjual semua asetnya. Ada orang yang begitu berpusat pada musuh, begitu terobsesi sepenuhnya dengan perilaku lawannya sampai-sampai menjadi buta terhadap segalanya kecuali keinginan mereka agar orang itu kalah, walaupun itu berarti dirinya juga kalah. Kalah/Kalah adalah filosofi konflik bermusuhan, filosofi perang.

Menang


Satu alternatif lain yang lazim adalah berpikir Menang. Orang dengan mentalitas Menang tidak harus menginginkan orang lain kalah. Hal itu tidak relevan. Yang penting adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika tidak ada pengertian kontes atau kompetisi, Menang mungkin merupakan pendekatan paling lazim dalam negosiasi sehari-hari. Orang dengan mentalitas Menang berpikir dalam pengertian mengamankan tujuannya sendiri dan menyerahkan kepada orang lain untuk mengamankan tujuan mereka.

Pilihan Mana yang Terbaik?


Dari lima filosofi yang dibicarakan sejauh ini, mana yang paling efektif? Jawabannya adalah "tergantung". Jika kita memenangkan pertandingan sepak bola, itu berarti tim lawan kalah. Jika kita bekerja di kantor wilayah yang jauh dari kantor wilayah lain, dan kita tidak mempunyai hubungan fungsional apa pun dengan kantor-kantor tersebut, kita mungkin ingin bersaing dalam situasi Menang/Kalah untuk merangsang bisnis. Namun, kita tentu tidak mau menciptakan situasi Menang/Kalah dalam sebuah perusahaan atau dalam situasi di mana kita memerlukan kerja sama antara orang-orang atau kelompok untuk mencapai keberhasilan maksimum.

Jika kita menghargai hubungan dan persoalannya tidak begitu penting, kita mungkin memilih Kalah/Menang dalam beberapa keadaan untuk meneguhkan orang lain. Kita mungkin memilih Kalah/Menang jika kita merasa pengorbanan waktu dan tenaga untuk mencapai kemenangan apa pun akan melanggar nilai-nilai lain yang lebih tinggi. Mungkin ini memang benar-benar tidak sepadan.

Ada keadaan yang di dalamnya kita ingin Menang, dan kita tidak begitu mempedulikan hubungan kemenangan itu dengan orang lain. Sebagai contoh, jika nyawa anak kita dalam bahaya, kita mungkin kurang peduli tentang orang dan keadaan lain. Namun, menyelamatkan nyawa itu yang akan menjadi kepentingan yang tertinggi.

Jadi, pilihan terbaik bergantung pada realitas. Tantangannya adalah membaca realitas itu secara akurat dan tidak menerjemahkan Menang/Kalah atau penulisan naskah lain ke dalam semua situasi.

Menang/Menang atau Tidak Sama Sekali


Jika individu-individu tidak menghasilkan solusi sinergis, solusi yang disepakati oleh kedua belah pihak, mereka akan masuk ke ekspresi yang lebih tinggi dari Menang/Menang, yaitu Menang/Menang atau Tidak Sama Sekali.

Tidak Sama Sekali pada dasarnya berarti bahwa jika kita tidak dapat memperoleh solusi yang akan menguntungkan kita berdua, kita sepakat untuk tidak sepakat, yaitu Tidak Sama Sekali. Tidak ada harapan yang tercipta, tidak ada kontrak kerja yang ditetapkan. Ketika Tidak Sama Sekali menjadi pilihan dalam benak kita, kita merasa bebas karena kita tidak perlu memanipulasi orang lain, untuk memaksakan agenda kita, untuk mendesak apa yang kita inginkan. Kita dapat terbuka. Kita dapat benar-benar berusaha mengerti akar masalah yang mendasari posisi tertentu.

Menang/Menang atau Tidak Sama Sekali memberi kebebasan emosional yang luar biasa dalam hubungan keluarga. Jika para anggota keluarga tidak dapat sepakat mengenai sebuah video yang akan disukai oleh semua, mereka sebaiknya memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang lain daripada sebagian menikmati malam itu dengan mengorbankan sebagian yang lain.
Advertisement:
Jadi, bab "Kebiasaan 4: Berpikir Menang/Menang" sub bab “Enam Paradigma Interaksi Manusia” dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, menjelaskan bahwa paradigma yang kita pilih mencerminkan nilai-nilai dan tujuan kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Covey menekankan bahwa Menang/Menang bukan sekadar strategi, tetapi filosofi hidup yang menghargai martabat setiap individu dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Versi Video:

The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif)
Rp99.500
©2008-2026 - Belbuk.com
Jl. As'syafiiyah No. 60B, Cilangkap, Jakarta Timur 13870
Tlp. 021-22811835 (Senin s/d Jumat Pkl 09.00-18.00 WIB)