Belbuk.comtoko buku onlineBuku Original021-4202857
Topik:
 

Cara Efektif Menyampaikan Maksud Kita Kepada Orang Lain

Oleh Belbuk.com, 22/06/2025
Cara Efektif Menyampaikan Maksud Kita Kepada Orang LainBab "Kebiasaan 5: Berusaha Dimengerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti" sub bab “Baru Berusaha untuk Dimengerti”dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menjelaskan bahwa setelah mendengarkan secara empatik dan sungguh-sungguh berusaha memahami orang lain terlebih dahulu, barulah kita berada di posisi yang kuat untuk menyampaikan maksud, ide, atau keinginan kita dengan efektif.
Advertisement:

Pengertian dan Persepsi


Sementara kita belajar mendengarkan orang lain secara mendalam, kita akan menemukan perbedaan besar dalam persepsi. Kita juga akan mulai menyadari dampak yang dapat ditimbulkan oleh perbedaan ini ketika orang berusaha bekerja sama pada situasi kesalingtergantungan.

Anda melihat wanita muda; saya melihat wanita tua. Dan kita berdua bisa sama-sama benar. Anda mungkin melihat dunia melalui kacamata yang berpusat pada pasangan; saya melihatnya melalui lensa yang berpusat pada uang dalam kekhawatiran ekonomis. Naskah hidup Anda mungkin ditulis dalam mentalitas kelimpahan; naskah hidup saya mungkin ditulis dalam mentalitas kelangkaan. Anda mungkin mendekati masalah dari paradigma otak kanan yang sangat visual, intuitif, dan menyeluruh; saya mungkin sangat berotak kiri, sangat berurutan, analitis, dan verbal dalam pendekatan saya.

Persepsi kita dapat menjadi sangat berbeda. Namun, kita sama-sama telah hidup dengan paradigma kita selama bertahun-tahun, berpikir bahwa paradigma tadi adalah "fakta", dan mempertanyakan kecakapan karakter atau mental dari siapa saja yang tidak dapat "melihat fakta-fakta tersebut." Sekarang dengan semua perbedaan kita, kita berusaha bekerja sama - dalam perkawinan, pekerjaan, proyek pelayanan masyarakat - untuk mengelola sumber daya dan mencapai hasil. Lalu, bagaimana kita mengerjakannya? Bagaimana kita mengatasi keterbatasan persepsi individual kita supaya kita dapat berkomunikasi secara mendalam, supaya kita dapat berurusan secara kooperatif terhadap isu tertentu dan muncul dengan solusi Menang/Menang? Jawabannya adalah Kebiasaan 5. Ini merupakan langkah pertama dalam proses Menang/Menang. Walaupun orang lain tidak berasal dari paradigma itu, berusahalah mengerti terlebih dahulu.

Berusaha untuk Dimengerti


Berusaha lebih dahulu untuk mengerti baru dimengerti. Mengetahui bagaimana untuk dimengerti adalah separuh lagi dari Kebiasaan 5, dan sama pentingnya dalam mencapai solusi Menang/Menang.

Sebelumnya kita mendefinisikan kematangan sebagai keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa. Berusaha untuk mengerti memerlukan tenggang rasa; berusaha untuk dimengerti membutuhkan keberanian. Menang/Menang memerlukan kadar yang tinggi dari keduanya. Jadi, dalam situasi kesalingtergantungan penting sekali bagi kita untuk dimengerti.

Orang Yunani mempunyai filosofi hebat yang terwujud dalam tiga kata yang disusun secara berurutan: ethos, pathos, dan logos. Ketiga kata ini mengandung intisari dari usaha mengerti terlebih dahulu dan membuat presentasi yang efektif. Ethos adalah kredibilitas pribadi kita, kepercayaan yang orang miliki akan integritas dan kecakapan kita. Ini adalah kepercayaan yang kita ilhami, rekening bank emosi kita. Pathos adalah sisi empatik, yaitu perasaan. Ini berarti bahwa kita selaras dengan pendalaman emosional dari komunikasi orang lain. Logos adalah logika, bagian penalaran dari presentasi.

Perhatikan urutannya: ethos, pathos, logos, yaitu karakter kita, dan hubungan kita, dan kemudian logika presentasi kita. Ini mewakili satu lagi perubahan paradigma yang besar. Kebanyakan orang, dalam membuat presentasi, langsung menuju logos, logika otak kiri, dari gagasan mereka. Mereka berusaha meyakinkan orang lain akan kebasahan logika itu tanpa lebih dahulu mempertimbangkan ethos dan pathos.

Satu dengan Satu


Kebiasaan 5 sangat mujarab karena berada tepat di tengah lingkaran pengaruh kita. Banyak faktor di dalam situasi saling tergantung berada dalam lingkaran kepedulian kita, yaitu masalah, ketidaksepakatan, keadaan, dan perilaku orang lain. Dan jika kita memfokuskan energi kita di luar sana, kita menguras energi itu dengan sedikit hasil positif saja.

Tetapi kita juga dapat selalu berusaha mengerti terlebih dahulu. Sesuatu yang berada dalam kendali kita. Dan ketika kita berbuat begitu, ketika kita berfokus pada lingkaran pengaruh kita, kita benar-benar mengerti orang lain secara mendalam. Kita mempunyai informasi yang akurat untuk dikerjakan, kita tiba pada inti persoalan dengan lebih cepat, kita menambah rekening bank emosi kita, dan kita memberi orang udara psikologis yang mereka butuhkan supaya kita dapat bekerja bersama secara efektif.

Hal ini adalah pendekatan dari dalam ke luar. Dan ketika kita melakukannya, saksikanlah apa yang terjadi pada lingkaran pengaruh kita. Karena kita benar-benar mendengarkan, kita dapat dipengaruhi. Dan dapat dipengaruhi adalah kunci untuk mempengaruhi orang lain. Lingkaran kita mulai meluas. Kita meningkatkan kemampuan kita untuk mempengaruhi banyak hal dalam lingkaran kepedulian kita. Dan saksikanlah apa yang terjadi pada kita. Semakin dalam kita mengerti orang lain, semakin kita akan menghargai mereka, semakin hormat perasaan kita kepada mereka. Menyentuh jiwa manusia lain sama juga dengan berjalan di atas tanah suci.

Kebiasaan 5 adalah sesuatu yang dapat kita praktikkan sekarang. Kali berikutnya kita berkomunikasi dengan seseorang, kita dapat mengesampingkan autobiografi kita sendiri dan dengan sungguh-sungguh berusaha mengerti. Bahkan ketika orang tidak mau terbuka mengenai masalah mereka, kita dapat bersikap empatik. Kita dapat merasakan hati mereka, kita dapat merasakan luka mereka, dan kita dapat berespons, "Anda kelihatannya murung hari ini." Mereka mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tidak apa-apa. Kita telah sudah memperlihatkan pengertian dan respek.

Jangan mendesak; bersabarlah; bersikaplah hormat. Orang tidak harus terbuka secara verbal sebelum kita berempati. Kita dapat selalu berempati terhadap perilaku mereka. Kita mungkin cerdas, peka, dan sadar dan kita dapat hidup di luar autobiografi kita ketika diperlukan. Dan jika kita sangat proaktif, kita dapat menciptakan peluang untuk melakukan kegiatan preventif. Untuk berusaha mengerti terlebih dahulu, kita tidak perlu menunggu hingga putra atau putri kita mengalami masalah di sekolah atau sampai kita menjalani negosiasi bisnis kita yang berikutnya. Luangkan waktu bersama anak-anak kita sekarang, satu dengan satu. Dengarkan mereka; pahami mereka. Lihat rumah kita, kehidupan sekolah, tantangan dan masalah yang mereka hadapi, melalui mata mereka. Tambahlah rekening bank emosi kita. Beri mereka udara. Pergilah keluar bersama pasangan kita secara teratur. Ajaklah makan malam atau mengerjakan sesuatu bersama yang kita beruda sukai. Dengarkan satu sama lain; berusahalah untuk mengerti. Lihatlah hidup melalui mata satu sama lain.

Waktu yang kita investasikan untuk mengerti secara mendalam orang-orang yang kita kasihi menghasilkan dividen yang besar sekali pada komunikasi yang terbuka. Banyak dari masalah yang mengganggu keluarga dan perkawinan sebenarnya tidak perlu sampai membusuk dan menyebar. Komunikasi menjadi begitu terbuka sehingga masalah yang potensial dapat dihentikan di titik awal. Dan ada cadangan besar kepercayaan pada rekening bank emosi untuk mengatasi masalah yang benar-benar timbul.

Dalam bisnis, kita dapat menyiapkan waktu satu dengan satu dengan karyawan kita. Dengarkan mereka, pahami mereka. Siapkan sistem akuntansi sumber daya manusia atau sistem informasi pihak-pihak terkait dalam perusahaan kita untuk mendapatkan umpan balik yang jujur dan akurat pada setiap tingkat, yaitu dari pelanggan, pemasok, dan karyawan. Jadikanlah unsur manusia sama pentingnya dengan unsur keuangan atau teknis. Kita menghemat banyak sekali waktu, energi, dan uang ketika kita menyadap sumber daya manusia dari sebuah perusahaan pada setiap tingkat. Ketika kita mendengarkan, kita belajar. Dan kita juga memberi udara psikologis kepada orang yang bekerja untuk kita dan bersama kita. Kita mengilhami loyalitas yang jauh lebih tinggi dari tuntutan fisik jam delapan sampai jam lima kerja mereka.

Berusahalah lebih dahulu untuk mengerti. Sebelum masalah muncul, sebelum kita berusaha mengevaluasi dan membuat resep, sebelum kita mencoba menyajikan gagasan kita sendiri, berusahalah untuk mengerti. Ini adalah kebiasaan kesalingtergantungan yang manjur. Ketika kita benar-benar mengerti satu sama lain secara mendalam, kita pun membuka pintu bagi solusi kreatif dan alternatif ketiga. Perbedaan kita tidak lagi menjadi batu sandungan bagi komunikasi dan kemajuan. Sebagai gantinya, perbedaan tersebut malah menjadi batu loncatan bagi sinergi.
Advertisement:
Jadi, bab "Kebiasaan 5: Berusaha Dimengerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti" sub bab “Baru Berusaha untuk Dimengerti" dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, menjelaskan bahwa “berusaha untuk dimengerti” adalah hak setiap orang, tetapi hanya akan efektif jika didasari niat tulus untuk memahami terlebih dahulu.

Versi Video:

The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif)
Rp99.500
©2008-2026 - Belbuk.com
Jl. As'syafiiyah No. 60B, Cilangkap, Jakarta Timur 13870
Tlp. 021-22811835 (Senin s/d Jumat Pkl 09.00-18.00 WIB)