
Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya Syafii, adalah cendekiawan Muslim, sejarawan, dan penulis Indonesia yang dikenal luas sebagai tokoh pemikir moderat dan inklusif. Ia lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sebagai anak bungsu dari keluarga sederhana, ia kehilangan ibu sejak dini dan tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah yang membentuk karakter dan pemikirannya.
Sejak muda, Syafii menunjukkan semangat belajar yang tinggi meski harus berjuang secara ekonomi. Ia merantau ke Yogyakarta pada 1953 dan menempuh pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Setelah itu, ia sempat mengajar di Lombok dan bekerja serabutan, termasuk sebagai pelayan toko, demi membiayai kuliah. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana muda di Universitas Cokroaminoto Surakarta, lalu meraih gelar sarjana sejarah di IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta) pada 1968.
Pada 1970-an, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Ia meraih gelar master di bidang sejarah dari Ohio University, kemudian menyelesaikan program doktor di University of Chicago pada 1983 dengan disertasi tentang gagasan politik Islam dalam perdebatan Konstituante. Di Chicago, ia belajar di bawah bimbingan Fazlur Rahman, yang memengaruhi pandangan progresifnya tentang Islam.
Setelah kembali ke Indonesia, Syafii mengajar sebagai dosen dan kemudian menjadi Guru Besar di almamaternya. Ia aktif di Muhammadiyah dan menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini semakin menegaskan posisi sebagai gerakan Islam moderat yang berorientasi pada kemanusiaan dan kebangsaan. Ia juga mendirikan Maarif Institute dan pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace.
Sebagai penulis, Buya Syafii produktif menghasilkan karya yang membahas hubungan Islam, politik, dan keindonesiaan. Beberapa bukunya antara lain Islam dan Masalah Kenegaraan, Dinamika Islam, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, serta otobiografi Titik-Titik Kisar di Perjalananku. Pemikirannya menekankan pluralisme, toleransi, dan penolakan terhadap politisasi agama yang sempit. Atas kontribusinya, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Ramon Magsaysay Award pada 2008.
Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia pada 27 Mei 2022 di Yogyakarta pada usia 86 tahun. Ia dikenang sebagai “Guru Bangsa” yang konsisten menyuarakan Islam yang rahmatan lil alamin dan semangat kebangsaan yang inklusif.