
Abdul Chaer adalah ahli bahasa (linguis) dan penulis buku kebahasaan Indonesia yang sangat produktif. Ia lahir di Karet Kubur, Tenabang, Jakarta, pada 8 November 1940, dan dikenal luas sebagai tokoh yang banyak menyumbang dalam pengembangan ilmu linguistik serta pelestarian bahasa dan budaya Betawi.
Ia menempuh pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan meraih gelar sarjana pendidikan pada 1969. Pada 1976–1977, ia mengikuti program pascasarjana di bidang linguistik di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Sepanjang kariernya, Abdul Chaer menjadi dosen di Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, mengajar mata kuliah Linguistik Umum, Semantik, Sosiolinguistik, dan Psikolinguistik hingga memasuki masa purnabakti sebagai Lektor Kepala.
Sebagai penulis, ia menghasilkan puluhan buku yang menjadi referensi utama bagi mahasiswa dan pengajar bahasa Indonesia. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Linguistik Umum, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, Psikolinguistik, Morfologi Bahasa Indonesia, Sintaksis Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, dan Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Gaya penulisannya yang sederhana dan sistematis membuat buku-bukunya mudah dipahami sekaligus mendalam.
Selain menulis tentang bahasa Indonesia, Abdul Chaer sangat peduli terhadap bahasa dan budaya Betawi. Ia menyusun Kamus Dialek Jakarta (1976), Kamus Ungkapan dan Peribahasa Betawi, serta sejumlah buku tentang folklor, humor, dan sejarah Betawi seperti Folklor Betawi, Betawi Tempoe Doeloe, dan Tenabang Tempo Doeloe. Atas dedikasinya, ia menerima berbagai penghargaan, di antaranya Anugerah Budaya dari Gubernur DKI Jakarta, Penghargaan Bentara Budaya, dan Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari Bahasa Betawi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019.
Abdul Chaer meninggal dunia pada 13 September 2022 di Jakarta Timur dalam usia 81 tahun. Melalui karya-karyanya yang terus dibaca hingga kini, ia meninggalkan warisan berharga bagi pengembangan bahasa Indonesia dan pelestarian identitas budaya Betawi.