
Abdoel Moeis (juga ditulis Abdul Muis) adalah sastrawan, wartawan, dan tokoh pergerakan nasional Indonesia. Ia lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, pada 3 Juli 1886 dari keluarga Minangkabau yang terpandang. Ayahnya seorang demang, sementara ibunya berasal dari Jawa.
Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan sempat belajar di STOVIA, sekolah kedokteran di Batavia, namun tidak menamatkannya karena alasan kesehatan. Setelah itu, ia bekerja di bidang administrasi sebelum terjun ke dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan di sejumlah media, termasuk surat kabar berbahasa Belanda, dan aktif menulis di media pergerakan.
Abdoel Moeis terlibat dalam Sarekat Islam dan menjadi salah satu tokoh pentingnya. Ia juga sempat menjadi anggota Volksraad. Melalui tulisan-tulisannya yang tajam, ia sering mengkritik kebijakan kolonial Belanda dan memperjuangkan kepentingan rakyat pribumi. Aktivitas politiknya membuatnya sempat mengalami pembatasan dan pengasingan.
Sebagai sastrawan, ia dikenal luas melalui novel Salah Asuhan (1928) yang mengangkat persoalan benturan budaya Timur dan Barat serta identitas pribumi. Novel ini kemudian difilmkan dan hingga kini dianggap sebagai salah satu karya klasik sastra Indonesia. Karya-karyanya yang lain antara lain Pertemuan Jodoh, Surapati, dan Robert Anak Surapati. Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia.
Setelah kemerdekaan, Abdoel Moeis tetap aktif di bidang sosial dan perjuangan di Jawa Barat. Ia meninggal di Bandung pada 17 Juni 1959. Tidak lama setelah kepergiannya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, menjadikannya salah satu tokoh pertama yang menerima gelar tersebut. Hingga kini, namanya dikenang sebagai sastrawan sekaligus pejuang yang berkontribusi besar bagi sastra dan pergerakan nasional Indonesia.