
A. Mustofa Bisri, yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Gus Mus, adalah ulama, penyair, pelukis, dan budayawan Indonesia yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944. Ia adalah putra KH. Bisri Mustofa, ulama dan penulis tafsir Al-Ibriz yang terkemuka, serta Nyai Marafah Cholil.
Sejak kecil Gus Mus dididik dalam lingkungan pesantren. Setelah menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Rembang, ia nyantri di Pesantren Lirboyo, Kediri, lalu di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah asuhan KH. Ali Ma’shum. Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, dan menyelesaikan pendidikannya sekitar tahun 1970. Sekembalinya ke tanah air, ia membantu ayahnya mengelola Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Leteh, Rembang, yang kini ia pimpin.
Selain sebagai kiai, Gus Mus dikenal luas sebagai sastrawan. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan kolom di berbagai media. Karya puisinya sering disebut “puisi balsem” karena gaya yang sederhana namun menusuk dan menyejukkan sekaligus. Beberapa kumpulan puisinya antara lain Ohoi, Tadarus, Pahlawan dan Tikus, Gandrung, dan Negeri Daging. Ia juga menulis kumpulan cerpen seperti Lukisan Kaligrafi.
Di organisasi Nahdlatul Ulama, ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU dan sempat menjadi Wakil Rais Aam serta Pejabat Rais Aam. Gus Mus menikah dengan Siti Fatmah (wafat 2016) dan dikaruniai tujuh anak. Hingga kini ia tetap aktif menulis, melukis, dan menjadi salah satu tokoh yang dihormati karena sikapnya yang rendah hati, terbuka, serta pemikirannya yang menjembatani tradisi pesantren dengan dunia sastra dan kebudayaan modern.