belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
 
 TroliKeinginan
Buku    Biografi & Memoar    Pemimpin & Tokoh

Pak Harto: Sisi-sisi yang Terlupakan

Belum ada ulasan. Berikan ulasan Anda
Berat 0.56 kg
Tahun 2014
Halaman 348
ISBN 9786020306674
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
   Buku Sejenis
 
Persediaan Habis
Persediaan Buku sedang habis. Apakah Anda ingin diberitahu pada saat persediaan sudah ada?
Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut
English Classics: Little Women
Louisa May Alcott
Rp89.000

Sinopsis

Bapak adalah seorang ayah dan pemimpin yang penuh kharisma. Di antara filosofi hidup Bapak terdapat “nglurug tanpa bala, sugih ora nyimpen (menyerang tanpa pasukan, kaya tanpa menyimpan harta)”, juga “sekti tanpa maguru, menang tanpa ngasorake (sakti tanpa berguru, unggul tanpa merendahkan)”. Itulah falsafah hidupnya dan Bapak mengajarkan dan meneladankan hal ini kepada kami, agar kami jangan mudah menyerah dalam menghadapi segala sesuatu.

— Siti Hutami Endang Adiningsih

“Kalau nanti uang ganti rugi itu diterima, Bapak akan menggunakannya untuk apa?” saya bertanya sambil mengelus hati orang tua itu. “Yang pertama, untuk membayar pajak,” kata Pak Harto. Walaupun bicaranya masih perlahan, wajahnya berbinar dan senyumnya cerah. “Lainnya dibagikan melalui kegiatan sosial. Rakyat kita masih banyak yang menderita, jadi harus dibagikan dengan cara yang benar dan tepat sasaran,” tambahnya bersemangat.

— O.C. Kaligis

“Pak, apakah memang sudah waktunya mengabadikan nama Bung Karno? Apakah nanti rakyat tidak malah bingung, Bapak yang dulu memimpin pembubaran PKI, Bapak yang dulu dianggap melawan Bung Karno, kenapa sekarang Bapak meletakkan namanya di pintu gerbang Indonesia?” lagi-lagi saya bertanya kepada Pak Harto. “Tidak apa. Biar rakyat mengetahui dan selalu mengenang perjuangan dan jasa-jasa Bung Karno, ” jawab Pak Harto, mantap. Di situ, saya mengetahui besarnya kadar penghargaan Pak Harto terhadap sejarah. Ia tidak pernah berniat menghapus atau memindahkan sejarah.

— Moerdiono

Apakah ada majelis hakim yang sampai memerlukan tiga kali sidang untuk mengetahui kondisi kesehatan yang paling mutakhir dan terkini dari seorang terdakwa, seperti halnya perkara Pak Harto? Jawabannya, tidak ada! Tetapi, mengapa dalam perkara Pak Harto perlakuannya berbeda? Kesimpulannya tiada lain adalah karena penanganan perkara Pak Harto tidak lagi murni perkara hukum, melainkan sudah terkontaminasi dengan kepentingan politik.

— Ismail Saleh
(Kembali Ke Atas)
(Kembali Ke Atas)