Belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
Masuk Akun
Pesanan
 Troli
Cara PembelianTestimoniPusat BantuanJual Buku AndaTentang KamiHubungi Kami
Buku    Sejarah, Budaya & Filsafat    Sejarah

On Tyranny (Tentang Tirani): Dua Puluh Pelajaran dari Abad Kedua Puluh

Belum ada ulasan. Berikan ulasan Anda
Berat 0.28
Tahun 2020
Halaman 112
ISBN 9786020379739
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
   Buku Sejenis
 
Stok Sedang Kosong
Stok Buku sedang kosong. Apakah Anda ingin diberitahu pada saat stok sudah tersedia?

Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut:

Politik Hukum di Indonesia
Mahfud MD
Rp117.000 Rp130.000
Perbuatan Melanggar Hukum: Dipandang Dari Sudut Hukum Perdata (Edisi Revisi)
Wirjono Prodjodikoro
Rp35.000
Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik Van Omstandigheden) Sebagai Alasan (Baru) untuk Pembatalan Perjanjian (Edisi Revisi 2)
H.P. Panggabean
Rp58.500 Rp65.000
Metode Riset Hukum: Pendekatan Teori dan Konsep
Munir Fuady
Rp73.800 Rp82.000
Lainnya+   

Sinopsis

SEJARAH TIDAK BERULANG,
TETAPI BISA MEMBERI PELAJARAN
 
Pada abad kedua puluh, negara-negara demokrasi Eropa jatuh ke dalam fasisme, Naziisme, dan komunisme. Dalam gerakan-gerakan itu, seorang pemimpin atau satu partai mengaku mewakili suara rakyat, menjanjikan akan melindungi rakyat dari ancaman-ancaman eksistensial global, dan mengesampingkan nalar demi mitos. Sejarah Eropa menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat dapat terpecah, demokrasi dapat tumbang, etika dapat runtuh, dan orang-orang biasa dapat terjebak dalam keadaan yang tidak terbayangkan.
 
Sejarah dapat mengakrabkan, dan dapat memperingatkan. Saat ini, kita tidaklah lebih bijak daripada orang-orang Eropa yang menyaksikan demokrasi menyerah kepada totaliterisme pada abad kedua puluh. Namun, ketika tatanan politik tampaknya terancam bahaya, keuntungan kita adalah kita dapat belajar dari pengalaman mereka untuk menghentikan berkembangnya tirani.
 
Sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukannya.
 
“Sebuah karya yang layak dipertimbangkan, yang didasarkan pada sejarah namun bernapaskan kegentingan masa kini.”
Washington Post
(Kembali Ke Atas)
(Kembali Ke Atas)