belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
 
 TroliKeinginan
Buku    Sejarah, Budaya & Filsafat    Sejarah

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Berat 0.64 kg
Tahun 2016
Halaman 292
ISBN 9789794339527
Penerbit Mizan
   Buku Sejenis
 
Harga:Rp75.650
Harga Normal:Rp89.000
  Diskon 15%
Tersedia:Dikirim 2-4 hari berikutnya SETELAH pembayaran diterima. (Senin s/d Jumat, kecuali hari libur)

Sinopsis

“Ambassador Salim Haji Said’s new book, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, recounts Professor Salim Said's interactions with Soeharto's power-brokers—including Red Beret Commander Sarwo Edhie Wibowo, Generals Kemal Idris, Muhammad Jusuf, Sayidiman, Soemitro, Benny Moerdani, Admiral Sudomo and many others—in the process offering fascinating new insights into the behind-the-scenes workings of the New Order regime.”
—Kolonel (Purn.) US Army Joseph Daves, Mantan Atase Pertahanan Amerika Serikat di Jakarta pada awal Reformasi


“Buku sejarah militer kontemporer, disusun dari hasil interaksi dengan lebih dari 80-an jenderal yang mewarnai politik negara selama 30 tahun Pemerintahan Presiden Soeharto ... autentik dan perlu dibaca siapa saja yang ingin mendalami karakter militer (ABRI) dalam kehidupan bernegara di Indonesia.”
—Letjen TNI (Purn.) J. Suryo Prabowo, Kasum TNI 2011-2012


“Buku ini merupakan sejarah dan analisis terbaik mengenai Orde Baru. Selain saksi hidup, penulis adalah seorang sejarahwan yang tidak berpihak dan selalu melihat manusia dalam segala kerumitannya. Siapa pun yang menulis di kemudian hari tentang periode ini harus memakai buku ini karena
substansinya dan juga karena analisisnya.”
—Prof. Dr. R. William Liddle, Guru Besar Emeritus OHIO State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat


“Rangkaian artikel yang menarik dan bernilai sejarah yang langsung dialami penulisnya. Tulisan seperti ini hanya bisa dihasilkan oleh kombinasi naluri matang seorang jurnalis senior dan persepsi stereoskopik sarjana ilmu politik, yang jika bukan karena Reformasi mungkin masih berupa cerita off-the-record belaka.”
—Dr. Marsillam Simandjuntak, S.H., salah seorang pendiri Forum Demokrasi yang kemudian menduduki beberapa jabatan tinggi pada Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid


“Wartawan tahu sedikit tentang banyak hal, sedangkan ilmuwan tahu banyak tentang hal yang sedikit. Tetapi, bagaimana kalau ilmuwan adalah juga wartawan? Maka, karya yang dihasilkannya memancarkan keluasan pengetahuan yang didampingi kedalaman pemahaman. Inilah yang terpancar dari karya Salim Haji Said, sang wartawan yang telah menjadi ilmuwan, dalam karya akademis tentang suatu episode kritis dalam sejarah bangsa.”
—Prof. Dr. Taufik Abdullah, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

“Pengalaman penulis sebagai jurnalis yang berada dalam pusaran berbagai peristiwa nasional serta ketekunannya menyimpan catatan pengalaman dan serius memutakhirkannya menjadi  kekuatan terbesar. Buku ini memberi artikulasi bagi mereka yang ingin menggali lebih dalam pemahamannya terhadap sejarah bangsa.”
—Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo, Purnawirawan TNI


Tentang Penulis
Salim Haji Said lahir sebagai anak tertua Haji Said dan Hajjah Salmah pada 10 November 1943, di Desa Amparita, Kabupaten Parepare, Sulawesi Selatan. Salim menjalani pendidikan dasarnya di Kota Parepare sebelum akhirnya menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Solo, Jawa Tengah. Selama lima tahun (1963-1968), dia belajar psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Salim beralih mempelajari ilmu sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI karena tidak lagi diizinkan bertahan di sekolah lamanya akibat tingkat absennya yang tinggi imbas kesibukannya sebagai demonstran dan wartawan. Dari FISIP UI, Salim Said mendapat gelar sarjana (Drs.) dalam Ilmu Sosiologi pada 1976. Pendidikan tingginya di Jakarta tersendat-sendat dan berlangsung lama karena kegiatannya sebagai aktivis mahasiswa dan kesibukannya sebagai wartawan. Pada 1979, Salim Said memulai pendidikan pascasarjana di Ohio University, Athens, Ohio Amerika Serikat. Mendapat gelar Master of Arts in International Affairs (MAIA) pada 1980, dia kemudian diterima pada program doktor di Ohio State University (OSU) dan belajar ilmu politik di bawah bimbingan Prof. Dr. Raymond William Liddle (Bill). Salim Said mendapat gelar Master (M.A.) kedua pada 1983, dan pada Desember 1985 dia memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu politik dengan disertasi mengenai peran politik militer Indonesia pada periode Revolusi Kemerdekaan.
Ketika menyelesaikan pendidikannya pada Jurusan Sosiologi FISIP UI, Salim Said menulis tesis mengenai sejarah sosial film Indonesia. Tidak terlalu sulit baginya menulis tesis tersebut karena selama bertahun-tahun dia juga bersibuk sebagai kritikus film majalah Tempo. Tesis itu merupakan usaha penulis menemukan jawaban atas keluhan terhadap rendahnya mutu film Indonesia. Dari penelitiannya, Salim Said berkesimpulan bahwa film Indonesia yang mendominasi pasar adalah memang buatan para pemilik modal yang memperlakukan film semata sebagai komoditas dagang. Karena kalkulasi pembuatan tontonan tersebut hanya didasarkan pada hitungan untung rugi materiel, tentu saja mutunya hampir mutlak ditentukan oleh pasar dan para pemilik modal yang memang tidak terlatih memperhitungkan aspek artistik. Tesis Salim Said terbit sebagai buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris (terjemahan).
Menurut pengakuannya sendiri, Salim hijrah ke Pulau Jawa pada usia 16 tahun dengan ambisi menjadi seniman. Semasa remaja di Parepare, Salim mulai menulis cerita pendek dan puisi. Di Pulau Jawa kemudian dia juga menulis sejumlah telaah karya-karya sastra. Salim yang tertarik seni peran (acting) pernah belajar teater, menyutradai pertunjukan drama, dan ikut tampil sebagai aktor. Di kemudian hari, dia belajar dunia perfilman, menyutradarai dan beberapa kali tampil di depan kamera.
Namun, dia secara berangsur menyadari bakat seninya ternyata tidak sepotensial daya kritisnya. Maka, dia pun beralih menjadi ilmuwan dan memusatkan perhatian pada studi ilmu sosial dan politik. Sebagai ilmuwan sosial politik, Salim Said telah menerbitkan sekitar 10 buku—dalam bahasa Indonesia dan Inggris—yang pada umumnya membicarakan peranan politik militer Indonesia. Beberapa buku mengenai film dan perfilman juga dihasilkannya. Kendati tidak lagi berambisi menjadi seniman, Salim Said tetap saja diangkat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, bahkan menjadi ketua lembaga kesenian itu selama hampir 10 tahun.
Dalam riwayat hidupnya, Salim Said tercatat sebagai wartawan selama 25 tahun. Dari kedudukan sebagai wartawan dan foreign travelling correspondent majalah Tempo itulah, Salim yang juga salah seorang pendiri majalah mingguan tersebut, berkesempatan berkeliling ke berbagai penjuru dunia dan menulis laporan dan analisis menarik mengenai negara-negara yang dikunjunginya. Salim Said bangga berkesempatan meliput hari-hari terakhir Kamboja sebelum jatuh ke tangan Khmer Merah yang menciptakan killing field, dan bulan-bulan terakhir sebelum Amerika Serikat dan rezim kanan di Vietnam Selatan secara sempurna ditendang keluar dari kawasan Indochina. Dengan usaha sendiri, Salim Said juga meliput pelaksanaan kesepakatan Camp David yang dicapai bersama Menachim Begin (Israel) dan Anwar Sadat (Mesir). Untuk peliputan ini, Salim Said harus terbang ke Kairo dengan biaya pribadi. Menyeberangi Terusan Suez dan melewati Kota Ismailia, dia melanjutkan perjalanan menuju Jerusalem melalui Gurun Sinai dan Tanah Genting Gaza.
Selama sembilan bulan pada awal masa Reformasi, Salim Said ditunjuk mewakili kaum cendekiawan pada Badan Pekerja- MPR (BP-MPR). Pada 2006, Guru Besar Ilmu Politik ini dipercayai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) untuk Republik Ceko yang berkedudukan di Praha.
Pada tahun-tahun terakhir ini, sebagai Guru Besar Ilmu Politik, Salim Said sibuk mengajar pada Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Pertahanan Indonesia, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dia juga sibuk melakukan penelitian bagi buku yang sedang dipersiapkannya. “Saya terobsesi menyelesaikan penelitian dan menulis buku mengenai dinamika hubungan Presiden Sukarno dan militer dari masa Revolusi hingga naiknya Soeharto,” katanya.
(Kembali Ke Atas)

Ulasan

Rio Guswandi, 15 April, 2019Rating: 3 dari 5 Bintang!
Tidak ada pembahasan yang mendalam, cuma menceritakan suatu peristiwa layaknya membaca sebuah surat kabar
Apakah ulasan ini membantu?
Ya
 
Tidak
Totok Haryanto, 04 April, 2019Rating: 5 dari 5 Bintang!
Umumnya tulisan tulisan pak Salim Said, sangat detail dan bisa dijadikan referensi sejarah.
Penggambaran peristiwa sangat jelas dan gamblang namun sangat netral.
Apakah ulasan ini membantu?
Ya
 
Tidak
budi wibowo, 04 July, 2018Rating: 5 dari 5 Bintang!
Isinya sangat memperluas wawasan dan pengetahuan kita ttg sejarah politik jaman orde baru
Apakah ulasan ini membantu?
Ya
 
Tidak
(Kembali Ke Atas)
Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut
Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto
Salim Haji Said
Rp58.650 Rp69.000
Corporate Combat: Seni Berperang Merebut Pasar di Medan Pertempuran Bisnis
Nick Skellon
Rp99.000 Rp110.000
Pedoman Praktis Manajemen Bencana (Disaster Management)
Soehatman Ramli
Rp67.500 Rp75.000
Rekayasa dan Manajemen Banjir Kota
Robert J. Kodoatie
Rp133.650 Rp148.500
Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?: Sebuah Narasi Sejarah Alternatif
Graham E. Fuller
Rp71.100 Rp79.000
(Kembali Ke Atas)