Belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
Masuk Akun
Pesanan
 Troli
Cara PembelianTestimoniPusat BantuanJual Buku AndaTentang KamiHubungi Kami
Buku    Novel & Sastra    Novel

Mata Penakluk

Belum ada ulasan. Berikan ulasan Anda
Berat 0.39
Tahun 2015
Halaman 301
ISBN 9786027829244
Penerbit Expose
   Buku Sejenis
 
Harga: Rp45.900 Rp54.000
(Diskon 15%)
Tersedia:
Dikirim 2-4 hari berikutnya SETELAH pembayaran diterima. (Senin s/d Jumat, kecuali hari libur)

Sinopsis

Ayah berhenti sejenak, lalu menatap mataku dalam-dalam. Aku tak bisa membedakan siapa sebenarnya yang berpidato. Apakah Thariq bin Ziyad atau Ayah sendiri.... “Nak, peristiwa penaklukan itu menjadi inspirasi Ayah untukmu. Itulah mengapa Ayah memberimu nama Abdurrahman Ad-Dakhil, seorang hamba yang penuh welas sekaligus Sang Penakluk!” Meski aku masih bocah dan belum sepenuhnya paham, entah kenapa aku merinding.
Hingga kini, aku selalu bertanya dalam hati. Jika Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia, menaklukkan ketakutan dirinya dan seluruh pasukannya, lalu bagaimana dengan diriku? Apa yang harus aku taklukkan?

Mata Penakluk mendedahkan berbagai sisi pribadi Abdurrahman Ad-Dakhil atau yang karib dipanggil “Gus Dur”. Pernik-pernik masa kecil yang mengharukan, impian menjadi “Sang Penakluk”, mencetak pribadi Gus Dur menjadi sosok yang tangguh. Ia tegar setegar batu karang. Ia kokoh, meski badai kerap menerjang. Ia kuat sekuat garuda.

Novel ini mengajak pembaca untuk mengenal lebih dalam sosok Sang Penakluk…

TENTANG PENULIS

Abdullah Wong lahir pada 12 November 1977 di Jatirokeh, Brebes, Jawa Tengah. Wong adalah putra bungsu dari pasangan almarhum Bachwar Wirya Saradimulya dan almarhumah Chamilah Mahfudz. Menempuh pendidikan dasar di kampung halaman, kemudian melanjutkan madrasah tsanawiyah di Jatibarang, Brebes, lalu menamatkan madrasah aliyah di MAN Babakan Tegal.

Berkat bantuan dan dukungan kedua kakaknya, Hamidah dan Titi Lestari, lelaki berambut gondrong ini melanjutkan pendidikan di sejumlah pesantren di Jawa. Lepas dari beberapa pesantren, Wong merantau ke Jakarta. Di ibu kota ini, Wong tercatat mengikuti kuliah di sejumlah kampus. Meski kesukaan menulis terlihat sejak kecil, tapi di Jakarta inilah kecenderungan Wong untuk menulis makin tampak. Beberapa sajak, naskah drama, dan skenario dokumenter mulai ia tulis. Sejak itu, Wong mulai merambah ke penulisan fiksi.

Fiksi pertama penikmat kretek Gudang Garam Merah ini adalah novel berjudul MADA: Sebuah Nama yang Terbalik (Penerbit Makkatana, 2013).  Novel ini kemudian diapresiasi dalam sebuah pentas teater oleh Lab. Teater Ciputat yang bekerja sama dengan Teater Syahid UIN Jakarta pada 28 dan 29 September 2013 dengan judul MADA, disutradarai oleh Bambang Prihadi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kemudian Pameran Instalasi Aidil Usman pada 18-24 Oktober 2013 di Galeri Cipta TIM, Jakarta.

Mata Penakluk merupakan novel kedua yang ditulisnya. Kini, Wong tengah menulis kelanjutannya yang berjudul Hati Penakluk.

Buku yang ditulis bersama penulis lain di antaranya Beyond Motivation, Cinta Gugat, dan Jimat NU. Selain menulis novel, puisi, naskah drama, lirik lagu, dan editor lepas, Wong juga bergiat di Laboratorium Teater Ciputat di kawasan Kali Pesanggrahan, Hutan Sangga Buana, Karang Tengah.

Kini, Wong berdiam di umah suwung ditemani Naning Nurhalimah, berserta kedua anaknya Puisi Wihdah dan Damar Arahat Abdullah.
(Kembali Ke Atas)

Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut:

Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang
Boy Candra
Rp41.400 Rp46.000
(Kembali Ke Atas)