belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
 
 TroliKeinginan
Buku    Biografi & Memoar    Seniman & Atlet

Biografi The Obsession For Perfection: Cristiano Ronaldo

Belum ada ulasan. Berikan ulasan Anda
Berat 0.57 kg
Tahun 2014
Halaman 380
ISBN 9786021139165
Penerbit Matahari
   Buku Sejenis
 
Persediaan Habis
Persediaan Buku sedang habis. Apakah Anda ingin diberitahu pada saat persediaan sudah ada?

Sinopsis

Aku suka menjadi Cristiano Ronaldo.
Aku menyukai semua hal yang kulakukan, aku suka kehidupanku, aku bahagia. Aku selalu menganggap diriku sebagai seorang pemenang. Aku lebih banyak menang ketimbang kalah. Aku selalu mencoba untuk fokus. Aku tahu itu tak mudah, tapi tak ada yang mudah dalam hidup ini. Jika semua hal itu mudah, kita tidak akan dilahirkan dalam keadaan menangis.

Aku adalah pribadi yang kompetitif, dan kenyataan itu tak akan pernah berubah. Tentu saja aku tumbuh dan menjadi semakin dewasa. Namun, itu tak akan mengubah cara berpikirku. Aku percaya akan kemampuanku. Aku selalu percaya itu. Aku adalah diriku. Caraku bertindak, sama dengan yang dilihat orang lain—itulah diriku yang sebenarnya. Aku tak akan mengubah perilakuku demi siapa pun. Jika mereka menyukaiku, aku suka itu. Tapi jika mereka tak menyukaiku... silakan saja menghindar. Mereka tak perlu repot-repot datang menonton permainanku.

Siapa pun yang dekat denganku pasti mengetahui siapa aku sebenarnya. Mereka tahu bagaimana kepribadianku, karakterku. Aku sangat akrab dengan keluargaku. Dulu aku sangat dekat dengan ayahku, tapi kini aku hanya dekat dengan ibu dan saudara-saudara kandungku. Keluargaku adalah tulang punggungku. Mereka sangat mendukung perkembanganku; mereka selalu ada untukku ketika aku membutuhkan mereka. Mereka memberiku banyak sekali dukungan dan aku sedapat mungkin akan selalu ada jika mereka membutuhkanku.

Orang-orang yang memahamiku pastilah mencintaiku. Orang-orang yang tinggal bersamaku, berlatih bersamaku, bekerja bersamaku... Mereka selalu memprioritaskanku dalam kehidupan mereka karena mereka tahu bagaimana perlakuanku terhadap mereka. Bisa saja orang lain bersikap tidak demikian kepadaku karena mereka tidak mengenalku. Dan, aku mengerti mengapa mereka berbuat demikian.
Aku selalu mengutarakan pendapatku. Aku akan ungkapkan hal apa pun yang kupikirkan. Mungkin itulah alasan mengapa beberapa orang tak menyukaiku. Aku tak peduli apa pun yang orang katakan mengenai diriku. Aku tak pernah membaca koran atau majalah. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Banyak sekali kebohongan yang ditebarkan tentang diriku... dan itulah harga sebuah kesuksesan. Mungkin saja mereka iri kepadaku karena aku kaya, menarik, dan dapat bermain sepak bola dengan hebat. Tak ada alasan lain untuk membenciku.

Aku selalu siap untuk belajar, untuk mendengar opini orang lain. Sangatlah mudah untuk hidup bersamaku. Dan aku adalah orang yang beruntung karena kapan pun aku membutuhkan teman bicara, sahabat-sahabat terbaikku akan datang menghampiri. Aku hanyalah seorang pria biasa dan sama seperti pria lainnya. Aku adalah orang yang sangat menyukai tantangan—dan aku selalu berhadapan dengan tantangan. Sepanjang hidupku kudedikasikan untuk memburu tantangan.

Sebenarnya aku ini orang yang positif dan seimbang. Bagiku manjalin hubungan dengan orang lain itu lebih berharga dibandingkan uang. Memiliki hidup yang berkualitas itu lebih penting dari pada uang. Aku ditempa dalam didikan yang luar biasa. Kedua orangtuaku mengajariku untuk menjadi diriku sendiri, dan untuk tidak berubah demi siapa pun. Jika orang-orang menyukaiku, aku suka itu. Namun jika mereka tak suka padaku, aku tak akan terganggu dengan sikap mereka. Aku senang melihat orang-orang di sekitarku bahagia, tersenyum, dan bersyukur. Kau tak akan memenangkan apa pun dalam hidup ini jika kau tak mau menghadapi masalah yang menghadangmu.

Waktu kecil, semasa tinggal di Lisbon, aku hanyalah anak kecil yang sering menangis. Hingga kini pun aku masih menangis sesekali—menangis sejadi-jadinya, baik karena bahagia maupun karena sedih. Menangis itu baik. Menangis adalah hal kecil yang akan melengkapi hidupmu.

Aku tak punya waktu untuk orang-orang yang membohongiku. Bagiku, bohong adalah sifat terburuk yang pernah ada. Sebuah kebohongan akan membuat kemarahanku meledak. Aku juga bukanlah orang yang terlalu banyak bicara. Berbicara terlalu banyak dapat merusak image-mu. Aku tak suka bicara terlalu banyak tentang diriku. Aku tak ingin menarik perhatian orang-orang untuk membicarakannya dan aku pun tak ingin menyembunyikan apa pun dari mereka. Biarkan saja orang-orang bergosip sesuka mereka. Jika mereka ingin menjual gosip-gosip mereka, silakan saja. Tapi aku tak tertarik untuk mendengarnya.

Aku adalah seorang anak yang cerdas. Namun, tak ada seorang manusia pun yang terlahir sempurna, termasuk diriku. Aku pernah merasakan bahwa tak mudah untuk menjadi seorang Cristiano—aku merasakannya ketika aku ingin melakukan hal-hal yang dapat dilakukan kebanyakan orang namun tak bisa kulakukan. Tapi aku tahu cara untuk mengatasi perasaan itu dan jujur saja, aku tak nyaman dengan kehidupan semacam ini.
Aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang paling aku sukai: bermain sepak bola.

Aku telah memenangkan kejuaraan apa pun di luar sana, namun aku tak akan pernah berhenti berusaha untuk terus menang hingga aku pensiun nanti. Itulah diriku. Aku percaya hari sial itu ada, tapi hal buruk itu tak akan pernah bisa mematahkan semangatku. Memfokuskan perhatian itu penting ketika kau ingin meraih tujuanmu. Dan, kunci keberhasilanmu adalah ketika kau membulatkan tekadmu untuk meraihnya.

Tujuan hidup dan ambisiku adalah untuk menjadi yang terbaik. Dan jika aku berhasil menjadi yang terbaik, pastilah aku sangat puas—meskipun sebenarnya aku sudah cukup puas dengan predikat sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah. Puji Tuhan, aku sudah dua kali menyabet gelar pemain terbaik di dunia, dan aku ingin merebutnya lagi. Aku pasti akan merebut Ballon d'Or itu lagi.

Aku percaya bahwa aku adalah seorang pesepak bola sejati dan ada banyak jalan untuk mengembangkan kemampuanku. Aku tidak mengatakan bahwa aku hanya akan memperbaiki aspek khusus dalam permainanku, yang kumaksud adalah seluruhnya. Kau harus tumbuh sebagai seorang pemain paripurna. Kau tak bisa hanya memfokuskan latihanmu pada teknik menembak atau menggiring bola.

Menggiring bola dan menghindari lawan adalah caraku bermain. Aku selalu menerapkan teknik itu semenjak kecil. Aku sangat suka menggiring dan menggocek bola, melewati lawan-lawanku. Aku tahu orang-orang pasti akan geram ketika aku menggiring bola melewati mereka, atau ketika aku melakukan tendangan salto atau backheel. Aku tak bermaksud untuk mempermainkan lawan-lawanku, gaya permainanku memang seperti itu. Aku tidak mengubah gaya permainanku ketika aku bermain di Inggris, Spanyol, atau Brazil nanti.

Teknik penciptaan golku adalah sebuah rahasia yang tak pernah kubocorkan. Aku hanya memfokuskan perhatianku ke gawang, penjaga gawang, dan para pemain belakang, lalu kutembakkan bola. Pada saat menembakkan bola ke arah gawang, aku selalu membisikkan pada diriku, “Jadikanlah ini sebagai tembakan terbaikmu, Cristiano.

Aku selalu mencoba untuk mencetak gol, bermain dengan baik, dan membantu timku. Namun, aku tak pernah berkeinginan untuk selalu mencetak gol pada setiap permainan yang kulakukan jika pada saat itu memang tak memungkinkan bagiku untuk mencetak gol. Jika kau memang punya bakat, kemampuan, dan kualitas teknis, gol akan tercipta dengan sendirinya. Jadi, aku tak pernah khawatir meskipun aku sama sekali tak mencetak gol. Jika aku bermain dengan baik, jika timku pun bermain dengan baik, gol akan tercipta dengan sendirinya.

Bukan masalah kami akan bermain di mana atau melawan siapa, akan kuberikan usaha terbaikku, kukerahkan seluruh teknik yang kumiliki, dan kulakukan apa pun yang bisa kulakukan demi kemenangan timku. Jika aku kalah bertanding dan pulang ke rumah, aku tidak akan berbicara dengan ibuku atau anggota keluargaku yang lain. Mereka tahu kebiasaanku ini dan bagaimana cara menghadapinya. Terkadang aku menangis setelah kalah pada beberapa pertandingan.
Kau tahu apa kelemahan terbesarku? Entahlah... Aku ingin menjadi hebat di setiap aspek, tidak hanya fisik tapi juga mental. Tak ada satu pun aspek yang lebih kufokuskan dibanding yang lainnya. Aku selalu ingin menjadi lebih kuat.

Pesepak bola juga manusia dan biasanya hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita akan memengaruhi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Semakin profesional seseorang, semakin wajiblah ia untuk memastikan bahwa hal-hal yang terjadi di sekelilingnya tidak akan memengaruhi performanya. Itulah harga yang harus kau bayar untuk sebuah profesionalisme.

Sepanjang waktu, pola hidupku tetap stabil dan terfokus—pada sepak bola. Terkadang aku menikmati hidupku, dan pada saat lain aku bekerja keras. Pada waktu libur, aku akan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama teman-temanku. Namun jika aku sedang bekerja, tak ada yang boleh menggangguku. Aku mencoba untuk memberikan teladan sebagai seorang pemain profesional, dan profesionalisme semacam itulah yang nantinya akan terpancar pada permainanku. Jika kau hanya bersenang-senang setiap akhir pekan, mustahil bahwa kau akan memberikan performa terbaikmu di hari pertandingan.

Aku suka merawat tubuhku, sebab tubuh adalah sebagian dari hidup dan pekerjaanku. Aku tidak mengikuti rangkaian latihan tertentu, hanya berlatih seperti biasa. Aku makan makanan apa pun yang kusukai dalam jumlah yang tidak berlebihan. Aku memiliki gen yang baik, jadi berat badanku tidak mudah naik. Namun, aku tetap harus bekerja keras untuk menjaga kondisi tubuhku.

Aku sangat menyukai hari-hariku di lapangan maupun di tempat latihan, sebab aku memang sangat suka bermain sepak bola. Sepak bola adalah antusiasmeku, hal yang paling kusukai dalam hidupku. Aku menganggap seluruh anggota timku sebagai sahabat-sahabatku, sebab merekalah yang setiap hari selalu ada bersamaku. Timku adalah keluarga keduaku. Kuhabiskan hampir seluruh waktuku bersama timku. Aku sangat menyukai atmosfer bersemangat yang memenuhi ruang ganti, tempat seluruh anggota tim menikmati harinya dan berpikir positif.

Saat kupijakkan kakiku ke atas lapangan, aku tak kenal lagi rasa takut. Para pemain belakang lawan takkan pernah menciutkan nyaliku; mereka berada di sana hanya untuk melakukan pekerjaan mereka. Aku tak percaya bahwa ada pemain yang memiliki niat untuk melukai lawannya. Sembilan puluh sembilan persen pemain bola itu jujur dan akan melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk timnya. Tentu saja, beberapa orang lawanku akan mencoba menghentikan langkahku dengan menjegalku. Jika mereka tidak melakukan itu, mereka takkan bisa menghentikanku. Namun, aku tidak akan terlalu mengkhawatirkannya.

Kupikir sebaiknya industri persepakbolaan melindungi dan membina para pesepakbola yang berhasil membuat sepak bola menjadi sebuah permainan yang kreatif, mengasyikkan, dan mampu memberikan hiburan kepada para penggemarnya. Penggemar adalah unsur terpenting sepak bola sebab tanpa penggemar, permainan sepak bola tidak akan pernah ada. Berkat para penggemarlah tim-tim seperti Real Madrid, Man United, dan Barcelona menjadi terkenal.

Aku mencoba menghindari provokasi karena permainan sepak bola tidak memerlukan hal itu. Orang yang memutar-balikkan fakta sebenarnya hanya ingin membuat keributan. Aku tak khawatir dengan apa pun yang orang-orang katakan mengenai diriku, aku hanya akan mengabaikannya.

Ketika orang-orang membicarakan keburukanku, aku hanya akan menutup telingaku. Aku hanya akan mendengar teriakan orang-orang yang mengelu-elukan betapa hebatnya bocah Portugis ini. Aku tak butuh cacian untuk memotivasi diriku.

Orang-orang yang menghinaku biasanya adalah orang-orang yang pertama kali akan meminta tanda tanganku jika kami bertemu di jalan. Aku tak mengerti mengapa mereka bisa jadi begitu negatif, ini terlalu aneh. Aku pasti memahaminya jika alasannya adalah karena mereka segan padaku, namun jika mereka hanya ingin berlaku kasar padaku maka aku tak akan pernah bersedia menoleransinya. Orang-orang akan mengatakan bahwa mereka menyukaimu ketika mereka bertemu denganmu di bandara, lalu mereka juga yang akan memakimu saat kau turun ke lapangan—pernyataan itu yang selalu diucapkan oleh anggota setimku, dan pernyataan itu memang terdengar masuk akal.

Aku bukanlah orang yang bisa menghabiskan malam dengan menonton empat atau lima pertandingan secara berturut-turut. Bukannya aku tak suka menonton pertandingan sepak bola, tapi aku memang tak suka menontonnya di TV. Aku lebih memilih untuk bermain. Ketika aku tidak turun ke lapangan, aku hanya akan menonton pertandingan-pertandingan timku, dan hanya pertandingan-pertandingan akbarnya saja.

Jika aku bukan seorang pemain bola, mungkin aku akan memilih untuk melanjutkan studiku. Namun kenyataannya aku memang sudah berlatih bersama Sporting Lisbon, tim pertamaku, sejak usiaku enam belas tahun, jadi aku tak mungkin datang ke sekolah. Mungkin aku akan belajar ilmu pemasaran atau jadi guru olahraga.
Aku ingin dikenang sebagai contoh yang baik, sebagai pesepak bola yang akan selalu memberikan usaha terbaiknya, yang memberikan penampilan terbaiknya, dan yang mampu memenangkan semua pertandingan.
(Kembali Ke Atas)
(Kembali Ke Atas)