Belbuk.comtoko buku onlinebuku asli021-4202857
Cara PembelianTestimoniPusat BantuanJual Buku AndaTentang KamiHubungi Kami
Buku    Sejarah, Budaya & Filsafat    Budaya

Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai

Belum ada ulasan. Berikan ulasan Anda
Berat 0.49
Tahun 2015
Halaman 428
ISBN 9786022910770
Penerbit Bentang Pustaka
   Buku Sejenis
 
Harga: Rp58.650 Rp69.000
(Diskon 15%)
Tersedia:
Dikirim 2-4 hari berikutnya SETELAH pembayaran diterima. (Senin s/d Jumat, kecuali hari libur)

Sinopsis

Dulu di sebuah pesantren, ada dua orang kiai yang berdebat tentang hukum kesenian. Salah seorang dari mereka bersikeras bahwa kesenian itu syirik, bahkan haram. Kami para santri menyaksikan perdebatan itu dengan hati berdebar. Dari kejauhan,  terdengar suara musik dari loudspeaker. Kiai yang saya kisahkan itu mulai meledak-ledak dan menyebut seni itu haram, tetapi kedua kakinya bergerak-gerak mengikuti irama musik dari kejauhan.

Kami, para santri, melihat bahwa kaki beliau itu bukan bergerak menggeleng-geleng, melainkan mengangguk-angguk. Maka, kami tiru anggukan ritmis kaki Pak Kiai itu, sebab gerak kaki beliau itu lebih merupakan ungkapan batinnya dibanding lisannya.
***
Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman “birokrasi”. Ketaatan yang penuh rasa “takut pada atasan”, bukan kecintaan dan pengabdian pada Tuhan. Semua kemudian berputar pada surga dan neraka, halal dan haram, pahala dan dosa. Detail-detail ritual yang malah memicu perbedaan pendapat antarumat, serta dengan gampang mengkafirkan orang lain. Dalam kegelisahannya, Emha seolah berbicara pada naluri kita dan berkata, “Apa tidak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri?”



TENTANG PENULIS

SASTRAWAN DAN budayawan ini lahir Rabu Legi 27 Mei 1953 di Jombang. Selain menulis, ia sangat aktif mengisi pengajian, seminar, diskusi, atau workshop di bidang pengembangan sosial, keagamaan, kesenian, dan lainnya. Pernah belajar di Pondok Pesantren Gontor dan sekolah menengah di Yogyakarta. Lantas mencicipi Fakultas Ekonomi UGM, kemudian bergabung dengan PSK (Persatuan Studi Klub) di bawah asuhan penyair Umbu Landu Paranggi. Kelompok ini ikut mewarnai upaya pengembangan kreativitas para penulis di Yogyakarta pada zamannya. Ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984); dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Karya puisi dan esai Emha cukup banyak dibukukan. Naskah lakon/dramanya banyak dipentaskan dan sempat fenomenal seperti Lautan Jilbab. Puisi Emha yang diterbitkandalam bentuk buku: “M” Frustasi (1975), Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 untuk Tuhanku (1980), Suluk Pesisiran (1989), Lautan Jilbab (1989), Cahaya Maha Cahaya (1991), Sesobek Buku Harian Indonesia (1993), Syair-Syair Asmaul
Husna (1994), dan Abacadabra Kita Ngumpet .... (1994). Sedangkan kumpulan kolom dan esainya, antara lain Indonesia Bagian dari Desa Saya (1980), Sastra yang Membebaskan (1984), Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (1985), Slilit Sang Kiai (1991), Bola-Bola Kultural (1993), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994), Sedang Tuhan pun Cemburu (1994).[]
(Kembali Ke Atas)

Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut:

Gelandangan di Kampung Sendiri
Emha Ainun Nadjib
Rp67.150 Rp79.000
Markesot Bertutur
Emha Ainun Najib
Rp89.100 Rp99.000
Slilit Sang Kiai
Emha Ainun Nadjib
Rp46.750 Rp55.000
Bumi
Tere Liye
Rp93.000
Lainnya+   
(Kembali Ke Atas)