Sinopsis
Zulhaq yang biasa dipanggil Zia adalah seorang karya (cowok agak jelas) yang memulai kisahnya dengan mengajukan cuti selama dua puluh hari pada bulan September ceria. Namun, rencana itu tak jalan mulus. Bos yang rambutnya hampir diambang kepunakan, meminta Zia memajukan cuti beberapa hari dengan alasan yang gak masuk akal. Terpaksa Zia mengawinsilangkan liburan, antara Agustus Mer(d)eka dan September Ceretweet.
Sebagai cowok super-ganteng yang hanya diakui oleh cermin sendiri, gak ada alasan untuk tidak tersenyum. Zia harus menikmati liburan tanpa terpengaruh oleh sandungan-sandungan tak bermartabat. Zia berlibur di dunia Twitterland, dunia manusia yang berkicau tentang ke-semok-an dunia nyata di Twitter dan membicarakan tentang ke-bohai-an Twitter di dunia nyata.
Terima kasih, ibu..eh.. Bung Zia! Berkat buku ini, kentang dan cabe di kebunku tumbuh lebat! Memang gak nyambung, sih. Tapi, tawa yang terhibur ternyata turut menyuburkan tanaman di sekitarku. Ya, meskipun ada mesem-mesem ngeselin, tapi udah ikhlas, kok. Namanya juga kehidupan.--Valiant Budi Yogi, Penulis 'kedai 1001 Mimpi' (@vabyo)
Pas tahu kalo isi buku ini tentang hiruk-pikuk sakit jiwa di Twitter, gue tiba-tiba semangat. Tapi, gue kasihan sama nasib hidup penulisnya yang di akhir cerita masang foto dirinya untuk dipromosikan. Gue kasihan karena Zulhaq memangsesuai dengan kenyataan yang gue bayangkan, nggak tampan. Lalu, gue terusinbaca sampai ada di kesimpulan bahwa nggak ada akun @r_djangkaru atau@divemag_indo di sini. Sebagai digital stalker, harusnya dia ga gituh? Gaperhatian sama akoohh..!"--Riyani Djangkaru (@r_djangkaru)