Dendam Konflik Poso (Periode 1998 - 2001): Konflik Poso dari Perspektif Komunikasi Politik
|
|
Oleh Hasrullah |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Pelanggan yang Membeli Buku Ini Juga Membeli Buku Berikut |
|
|
|
|
| Tinjauan
|
Rianingsih Djohani
 03/12/2011 |
Membaca judul buku ini saya mengira buku ditulis oleh aktivis atau jurnalis, ternyata oleh seorang doktor komunikasi politik. Saya lebih suka judul utamanya dihilangkan (Dendam Konflik Poso) dan buku menggunakan judul kecilnya saja (Konflik Poso dari Perspektif Komunikasi Politik). Pembuatan judul buku dilakukan oleh editor. Begitu juga isi buku dipopulerkan penulisannya oleh editor agar bisa dibaca lebih asyik oleh pembaca umum -termasuk saya- yang pasti akan mengantuk kalau bukunya bergaya akademik. Menarik untuk memahami Poso dari sudut pandang ahli komunikasi politik. Artinya penulis melihat bahwa konteks Politik Lokal di era otonomi daerah dan demokratisasi dengan adanya pemilu dan pilkada langsung merupakan faktor penting dalam konflik Poso karena menjadi ajang perebutan kekuasaan secara terbuka. Bagaimana peredaran informasi terjadi sebagai pesan komunikasi politik, begitulah studi yang dilakukan oleh penulis buku ini membuat saya mengira bahwa responden adalah aktor-aktor politik lokal, tapi ternyata informan/responden adalah para pemuka agama dari dua pihak dan para mediator. Hmmm, gimana ya?
Supaya memahami buku ini, sebaiknya baca dulu buku lain yang menjelaskan lebih dahulu tentang apa dan bagaimana konflik Poso yang lebih lengkap. Sedang buku ini menariknya pada gagasan untuk meneliti konflik ini dari sudut pandang komunikasi politik. |
|
|
|
|
| Apakah tinjauan ini cukup membantu Anda? |  | |
|
|
|
|
|
|
1 dari 1 tinjauan |
|
|
|
 |
 |
| Sinopsis
|
Konflik Poso merupakan musibah demokrasi berlatar belakang konflik struktural yang menyeret anak-anak bangsa berbeda agama dieksploitasi untuk kepentingan segelintir elite politik yang haus kekuasaan. Mereka menjual isu-isu demokrasi dan sentimen agama, sehingga masyarakat Poso yang dulu hidup rukun, damai, dan berdampingan "terpaksa" menjadi saling bermusuhan, bahkan dengan sanak suadara sendiri. Mereka saling bunuh dan bantai tanpa sadar bahwa mereka dikendalikan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab secara moral itu.
Penelitian yang dilakukan Hasrullah memperlihatkan sesuatu yang selama ini ditutup-tutupi oleh banyak pihak yang mengatakan bahwa dari dulu pertikaian itu telah terjadi di kalangan masyarakat Poso. Temuan Hasrullah menunjukkan bahwa sesungguhnya: 1. konflik terjadi karena adanya perebutan kekuasaan antarelite lokal karena faktor situasional dan makin maraknya demokrasi 2. respons kedua kelompok dominan yang bertikai tidak terlepas dari pesan-pesan komunikasi politik yang bermakna: demokratisasi, ketidakadilan, manipulasi informasi, penegakan hukum sampai masalah tender proyek 3. terjadi poitisasi agama dan kontestasi antara pendatang dan pribumi dalam hal pembagian kekuasaan. |
|
| (Kembali Ke Atas) |
|
 |
|
|
|